Liputan6.com, Jakarta - FIFA telah menunjuk Ivan Barton, wasit berkebangsaan El Salvador, untuk memimpin pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan tim nasional Prancis dan Spanyol. Penunjukan ini menandai sebuah lompatan signifikan dalam karier Barton, sekaligus menjadikannya wasit pertama dari El Salvador yang dipercaya mengawal laga semifinal di ajang sepak bola terbesar dunia tersebut.

Laga krusial antara Prancis dan Spanyol dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026, pukul 02.00 WIB. Pertandingan ini akan digelar di Stadion Dallas, Texas, yang juga dikenal sebagai AT&T Stadium di Arlington.

Ivan Barton, dikenal sebagai pengadil lapangan yang otoriter dan ekspresif. Ia memiliki latar belakang akademis sebagai seorang ahli kimia dan pernah menjadi dosen di Universitas El Salvador sebelum menjadi wasit FIFA sebelum usia 30 tahun.

Rekam Jejak Ivan Barton di Piala Dunia

Pertandingan semifinal antara Prancis dan Spanyol akan menjadi laga keempat yang dipimpin Barton sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Sebelumnya, ia telah memimpin tiga pertandingan, yaitu laga fase grup antara Turki melawan Paraguay dan Jepang melawan Swedia. Selain itu, Barton juga memimpin pertandingan babak 16 besar yang mempertemukan Swiss dengan Kolombia.

Rekam jejaknya di Piala Dunia tidak hanya terbatas pada edisi 2026. Barton juga berpartisipasi dalam Piala Dunia 2022, di mana ia memimpin tiga pertandingan, termasuk laga babak 16 besar antara Inggris dan Senegal. Dengan total enam penampilan sebelum laga semifinal ini, Barton mencatatkan diri sebagai wasit asal CONCACAF dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Dunia.

Dalam tugasnya memimpin semifinal, Barton akan didampingi oleh tim ofisial yang solid. David Moran dari El Salvador dan Antonio Pupiro dari Nikaragua akan bertindak sebagai asisten wasit. Sementara itu, Glenn Nyberg dari Swedia ditunjuk sebagai ofisial keempat, dan Mahbod Bigi, juga dari Swedia, akan bertindak sebagai wasit cadangan.

Ketegasan "Prestianni Law" di Lapangan Hijau

Ivan Barton sempat menjadi sorotan publik karena penerapan aturan ketat yang dikenal sebagai "Prestianni Law" atau "Vinicius Law". Aturan ini secara tegas melarang pemain menutup mulut dengan tangan saat berbicara kepada lawan, guna mencegah penyembunyian ucapan yang berpotensi rasis.

Ketegasan Barton dalam menegakkan aturan tersebut terlihat saat ia mengusir pemain Paraguay, Miguel Almiron, karena melanggar "Prestianni Law" dalam laga fase grup Piala Dunia 2026 antara Turki dan Paraguay. Insiden serupa juga terjadi pada bek Ekuador, Piero Hincapie, yang diusir saat menghadapi Meksiko.

Penunjukan Barton untuk pertandingan sepenting semifinal Piala Dunia ini menggarisbawahi komitmen FIFA dalam menjaga sportivitas dan integritas komunikasi antar pemain di lapangan, serta mengirimkan pesan jelas mengenai toleransi terhadap perilaku tidak sportif.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Luis De La Fuente Peringatkan Spanyol: Prancis Sekarang Sudah Jauh Lebih Kuat!