Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai ilmu filsafat akan semakin relevan dalam perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) sehingga banyak perusahaan teknologi global kini mulai mencari para ahli filsafat.

Ilmu filsafat dinilai semakin relevan karena kemampuan AI dalam mengolah data, memprediksi, dan menghasilkan keputusan perlu diimbangi kemampuan manusia untuk mempertanyakan nilai, tujuan, serta dampak dari keputusan tersebut.

Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua pengambilan keputusan yang dibuat oleh artificial intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat, kata Nezar di Jakarta, Jumat.

AI mampu menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, tetapi ,kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi filosofis secara holistik dan kritis.

Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat, tapi, belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat, kata Nezar.

Menurut Nezar, AI kini tidak lagi terbatas sebagai instrumen teknologi, tetapi, telah digunakan secara luas dalam sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian hingga kehidupan sosial. Perkembangan itu membuat setiap keputusan yang melibatkan AI memiliki dimensi etika yang perlu dipertimbangkan.

Dia juga mengingatkan munculnya konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak terduga, terutama ketika AI mulai mampu melakukan profiling dan membangun hubungan sintetik dengan manusia.

Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga, ujar Nezar.

Dia memandang tantangan etika AI akan semakin kompleks ketika teknologi berkembang menuju AI yang berwujud fisik, seperti robot humanoid yang mampu berinteraksi langsung dengan manusia.

Dengan dukungan large language model, robot dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, hingga membangun hubungan yang disebut sebagai synthetic relations.

Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia, kata Nezar.

Menurut Nezar, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai AI tidak cukup hanya melihat kemampuan teknologinya. Manusia perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif agar dapat menentukan bagaimana AI seharusnya digunakan dan ke mana arah perkembangannya.

Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat, kata Nezar.

Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.