Perdagangan harus menjadi jembatan yang mempererat kerja sama antarbangsa, bukan menjadi arena konfrontasi.
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan Indonesia berkomitmen menjadikan perdagangan sebagai instrumen perdamaian dan kemakmuran di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik, proteksionisme, serta perlambatan ekonomi dunia.
"Perdagangan harus menjadi jembatan yang mempererat kerja sama antarbangsa, bukan menjadi arena konfrontasi," ujar Wamendag menegaskan, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut Wamendag, Indonesia memilih jalan kolaborasi, diplomasi ekonomi yang terbuka, dan penguatan sistem perdagangan multilateral sebagai fondasi menciptakan stabilitas ekonomi global.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah mengalami transformasi besar.
Perdagangan tidak lagi dipandang semata sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan keamanan nasional, penguasaan teknologi, kebijakan industri, hingga pengaruh geopolitik.
"Kondisi ini mendorong meningkatnya penggunaan tarif, pembatasan ekspor, sanksi ekonomi, dan berbagai instrumen perdagangan strategis yang berdampak terhadap rantai pasok global," katanya saat menjadi pembicara "The 10th Jakarta Geopolitical Forum 2026", yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Di tengah situasi tersebut, Wamendag menegaskan bahwa Indonesia memilih membangun ketahanan ekonomi melalui keterbukaan, bukan dengan menutup diri dari perdagangan internasional.
Menurut dia, strategi Indonesia berfokus pada diversifikasi pasar ekspor, perluasan kemitraan perdagangan, penguatan daya saing industri nasional, hilirisasi, transformasi digital, serta pembangunan rantai pasok yang lebih tangguh.
"Ketahanan bukan berarti isolasi. Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap terbuka, adaptif, dan menjadi mitra perdagangan yang terpercaya," ujarnya pula.
Lebih lanjut, Wamendag menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen mendukung sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan (rules-based multilateral trading system).
Indonesia mendukung reformasi World Trade Organization (WTO), termasuk pemulihan mekanisme penyelesaian sengketa, pembaruan aturan perdagangan digital, serta penguatan perlakuan khusus bagi negara berkembang.
Indonesia juga mendorong reformasi tata kelola ekonomi global melalui International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, agar lebih mencerminkan meningkatnya peran negara-negara berkembang dalam perekonomian dunia.
Dalam forum tersebut, Wamendag menjelaskan bahwa Indonesia memanfaatkan transformasi ekonomi global sebagai peluang untuk memperkuat posisi sebagai middle power yang mampu membangun jembatan kerja sama antarkawasan.
Indonesia terus memperluas diplomasi ekonomi melalui ASEAN, G20, APEC, BRICS, OECD, dan WTO, sekaligus memperkuat jaringan perjanjian perdagangan internasional.
Saat ini, Indonesia telah memiliki sekitar 20 perjanjian perdagangan yang mencakup lebih dari 60 persen total perdagangan nasional, sehingga menjadi instrumen penting untuk memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing ekspor, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, Wamendag menekankan tantangan perdagangan global tidak dapat dihadapi oleh pemerintah semata.
Indonesia mendorong pendekatan pentaheliks, yang memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan media dalam merumuskan serta menjalankan diplomasi ekonomi nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Wamendag juga menyoroti keberhasilan Indonesia menghadapi berbagai tantangan perdagangan internasional melalui pendekatan dialog dan diplomasi yang konstruktif.
Salah satu capaian penting adalah keberhasilan memperoleh pengecualian terhadap 18 kategori produk ekspor Indonesia dari tarif tambahan dalam proses investigasi Section 301 Amerika Serikat.
"Dialog yang konstruktif, didukung data yang kuat dan pendekatan yang pragmatis, terbukti menghasilkan solusi yang lebih efektif dibandingkan konfrontasi," ujar Wamendag.
Roro Esti pun menegaskan bahwa kepercayaan akan menjadi fondasi utama perdagangan global di masa depan.
"Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridge builder di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Melalui perdagangan yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan, Indonesia ingin memperkuat kerja sama, membangun kepercayaan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan bersama," kata Wamendag.
Baca juga: Indonesia Forest Carbon Hub jadikan RI pusat perdagangan karbon global
Baca juga: D-8 Halal Expo Indonesia raih komitmen transaksi Rp242,6 Miliar
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.