Wakil Wali Kota Surakarta sebut penanganan sampah butuh kolaborasi dengan masyarakat

Selasa, 14 Juli 2026 20:49 WIB

Image Print

Pemerintah Kota Surakarta bersama Gereja Santo Petrus Purwosari menyerahkan enam unit komposter kepada Kelurahan Punggawan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (14/7/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyebut penanganan sampah membutuhkan kolaborasi dengan masyarakat.

Astrid saat menghadiri penyerahan bantuan komposter di Kantor Kelurahan Purbayan Solo, Jawa Tengah, Selasa mengatakan penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalian pemerintah. Salah satu contoh nyata ditunjukkan melalui sinergi Pemerintah Kota Surakarta dengan Gereja Santo Petrus Purwosari dalam mengedukasi masyarakat mengelola sampah organik dari rumah.

"Kami sangat mengapresiasi Gereja Santo Petrus Purwosari yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah contoh bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan komunitas, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, hingga masyarakat di tingkat kampung," ujar Astrid.

Menurut Astrid, persoalan sampah kini menjadi salah satu tantangan besar perkotaan, seiring meningkatnya pembangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, hingga dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan. Karena itu, upaya pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Ia mengungkapkan berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, sekitar 65 persen timbunan sampah di Kota Surakarta merupakan sampah organik. Jika sampah tersebut dipilah sejak dari rumah dan diolah menjadi kompos, maka volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo dapat ditekan secara signifikan.

"Sebagian besar sampah kita adalah sampah organik yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat. Kalau dipilah sejak awal, kemudian diolah menjadi kompos, bukan hanya mengurangi beban TPA Putri Cempo, tetapi juga menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya.

Ia menambahkan kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan lingkungan maupun urban farming di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Selain meningkatkan kualitas lingkungan, kegiatan tersebut juga berpotensi mendukung ketahanan pangan keluarga bahkan memberikan nilai ekonomi.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kota Surakarta bersama Gereja Santo Petrus Purwosari menyerahkan enam unit komposter kepada Kelurahan Punggawan sesuai jumlah RW yang ada. Bantuan tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus memicu terbentuknya kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah organik.

Astrid berharap pelatihan pembuatan kompos tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gerakan masyarakat yang berkelanjutan.

"Kita mulai dari langkah sederhana, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mengurangi food waste. Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi kebersihan Kota Surakarta. Semoga kolaborasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas, organisasi kemasyarakatan, maupun lembaga keagamaan lainnya untuk ikut bergerak menjaga lingkungan," katanya.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Surakarta berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin berkembang sehingga penanganan persoalan sampah tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga menuju Surakarta yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.