Wabup Kotim soroti camat kurang aktif tangani kesulitan air bersih

Kamis, 20 Agustus 2026 20:48 WIB

Image Print

Wakil Bupati Irawati menyampaikan arahan dalam rapat evaluasi penanggulangan karhutla yang dipimpin Bupati Halikinnor di rumah jabatan bupati, Rabu (19/8/2026). ANTARA/HO-Prokopim Kotim

Sampit (ANTARA) - Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Irawati menyoroti ada camat yang dinilainya kurang aktif dalam menangani masalah kesulitan air bersih di wilayahnya sehingga dikeluhkan masyarakat.

"Terkait masalah kekeringan ini saya melihat ada kurang aktifnya camat turun melihat ke desa sehingga dari RT maupun kepala desa, lebih mudah menghubungi nomor wakil bupati meminta bantuan," kata Irawati di Sampit.

Sejak awal Juli lalu, sejumlah desa di wilayah selatan mulai dilanda kekeringan yang menyebabkan mereka kesulitan air bersih. Pemerintah daerah melalui Perumdam Tirta Mentaya kemudian membantu memasok air bersih dari Sampit ke desa-desa yang membutuhkan.

Kawasan selatan atau pesisir tersebut meliputi empat kecamatan yaitu Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Kesulitan air bersih itu kini meluas, bahkan mulai melanda Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Irawati menegaskan, pasokan air bersih ke desa-desa tersebut masih berjalan. Namun dia menyayangkan ada camat yang dinilai kurang aktif dalam memfasilitasi desa-desa yang memerlukan air bersih, sehingga akhirnya kepala desa langsung menghubungi pemerintah kabupaten.

"Menurut mereka, lebih mudah menghubungi wakil bupati dibanding menghubungi camat. Kekeringan ini tidak hanya terjadi di satu atau dua desa, tetapi hampir di semua desa di wilayah selatan, termasuk di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, khususnya yang belum terjangkau PDAM," timpal Irawati.

Baca juga: BPS Kotim komitmen tuntaskan pendataan Sensus Ekonomi

Irawati menyebut, satu kecamatan yang saat ini belum tersentuh bantuan pasokan air bersih adalah Kecamatan Pulau Hanaut. Belum adanya jalan darat, membuat transportasi ke kecamatan yang berada di kawasan seberang ini hanya mengandalkan angkutan sungai.

Ada empat pelabuhan yang bisa digunakan untuk titik distribusi ke desa-desa di Pulau Hanaut. Sayangnya, saat ini masih ada kendala penyediaan kapal berukuran besar untuk mengangkut air bersih ke Pulau Hanaut untuk dibagikan kepada masyarakat.

"Camat Pulau Hanaut aktif mendorong kepala desa agar menyiapkan kapal besar dan juga profil tank atau tandon air, tetapi karena kendala anggaran sehingga kepala desa hanya bisa pasrah dihujat masyarakatnya karena memang tidak bisa menyewa kapal besar," tambahnya.

Irawati menyebut, ada usulan agar pemerintah daerah menyewa LCT untuk menyeberangkan air ke Pulau Hanaut, tetapi menurutnya ini tentu perlu dibahas lebih lanjut. Landing Craft Transport (LCT) adalah jenis kapal yang digunakan untuk mengangkut kargo dan personel dari kapal besar ke daratan atau sebaliknya.

Sementara itu, pasokan air bersih ke Kecamatan Seranau masih bisa dilaksanakan karena ada feri penyeberangan berukuran besar yang juga bisa dimanfaatkan untuk pendistribusian air bersih.

"Yang kita hadapi saat ini bukan cuma karhutla (kebakaran hutan dan lahan), tetapi juga kekeringan dan kesulitan air bersih. Mari kita tangani semuanya," demikian Irawati.

Baca juga: PWRI Kotim didorong terus berkontribusi dalam pembangunan daerah

Baca juga: Relawan tumbang akibat kelelahan, masyarakat Kotim diimbau bantu padamkan karhutla

Baca juga: DPKP Kotim minta petunjuk Inspektorat untuk penghapusan aset ekskavator terbakar

Pewarta : Norjani
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.