Jakarta -

Pemilik restoran India meminta bantuan setelah videonya tentang Gaza menuai kecaman. Restorannya dibanjiri ulasan buruk dari netizen.

Pemilik restoran India di London, Harman Singh Kapoor, meminta dukungan publik setelah restorannya dibanjiri ulasan buruk.

Hal ini terjadi setelah video yang diunggahnya tentang situasi di Gaza menuai kecaman di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapoor merupakan pengusaha kuliner beragama Sikh yang mengelola Singh's Dining, restoran India di London. Pihaknya tidak menyajikan makanan halal, lapor RoyaNews (14/10).

Pada akhir September 2026, ia mengunggah video yang memperlihatkan gambar udara sebuah bangunan di Gaza dengan lingkaran merah.

Viral Video soal Gaza, Restoran India di London Dibanjiri Review JelekViral Video soal Gaza, Restoran India di London Dibanjiri Review Jelek Foto: Roya News

Bangunan tersebut diidentifikasi dalam video sebagai Sekolah Perempuan Al-Qadisia. Kapoor mengklaim bangunan itu digunakan sebagai pangkalan militer Israel.

Ia kemudian mempertanyakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan militer Israel alasan bangunan tersebut masih berdiri di Gaza.

"Sekarang saya bertanya kepada Bibi (Panggilan Benjamin Netanyahu) dan Pasukan Pertahanan Israel, mengapa bangunan ini masih berdiri di Gaza?" ujar Kapoor dalam video tersebut.

Video itu menuai kritik luas, terutama dari netizen yang mendukung Palestina. Mereka menilai pernyataan Kapoor mengejek kehancuran di Gaza.

Sejumlah pengguna media sosial kemudian memberikan ulasan bintang satu kepada Singh's Dining melalui Google Review.

Tak hanya menghadapi ulasan buruk, Kapoor juga mengaku situs web restorannya mengalami serangan siber hingga tidak bisa diakses. Gangguan tersebut membuat pelanggan kesulitan melakukan pemesanan meja secara daring.

Pada 12 Oktober 2026, Kapoor mengunggah video berisi permohonan bantuan untuk mempertahankan restorannya.

Ia mengaku sedang menghadapi masa sulit akibat ulasan negatif, tunggakan sewa, serta ancaman proses hukum dari pemilik gedung.

"Hari ini, saya mengesampingkan harga diri dan meminta bantuan kalian untuk menyelamatkan restoran saya," kata Kapoor.

Ia menjelaskan bahwa restoran tersebut tidak sekadar bisnis, tetapi juga sumber penghidupan dan sesuatu yang sangat dicintainya.

Kapoor juga mengklaim Google hanya menerima ulasan bintang satu yang disebutnya palsu, sedangkan ulasan bintang lima dari pelanggan asli tidak diterima. Namun, klaim tersebut belum disertai bukti independen dalam laporan sumber.

Kapoor mengajak masyarakat untuk memesan, datang langsung, membagikan unggahannya, dan memberikan ulasan jujur berdasarkan pengalaman masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa Singh's Dining tetap menjadi restoran yang tidak menyajikan makanan halal

Dalam unggahan berikutnya, Kapoor memastikan restorannya belum tutup meski situs webnya sempat mengalami gangguan.

"Kami tidak tutup! Kami akan tetap buka sampai saya sendiri mengumumkan sebaliknya," tegasnya. Ia juga meminta pelanggan datang langsung untuk memberikan dukungan.

Masalah ini bukan kali pertama dialami Kapoor. Pada awal 2026, ia menutup restoran sebelumnya, Rangrez, di kawasan Hammersmith setelah beroperasi 16 tahun.

Ia menyebut kenaikan biaya operasional, pelecehan di internet, dugaan serangan oleh kelompok yang ia identifikasi sebagai warga Pakistan, serta kurangnya dukungan dari Kepolisian Metropolitan sebagai sejumlah penyebab penutupan tersebut.

Kapoor juga dikenal vokal menentang kelompok yang ia sebut sebagai unsur radikal. Keputusannya tidak menyajikan daging halal didasarkan pada keyakinan agamanya.

Namun, ia pernah mendapat kritik karena pernyataannya yang dinilai provokatif terhadap komunitas Muslim.

Sejumlah netizen mengaitkan aksi boikot terhadap Singh's Dining dengan video Kapoor tentang Gaza.

Salah satu pengguna menulis bahwa Kapoor telah mengejek penderitaan anak-anak di Gaza. Pengguna lain yang mengaku sebagai sesama penganut Sikh turut menyerukan boikot terhadap restorannya.

Kini, Kapoor meminta dukungan pelanggan agar bisnis kulinernya tetap bertahan di tengah kontroversi tersebut.

(raf/adr)