Sebelumnya, utang Amerika Serikat telah melampaui U$ 39 triliun atau Rp 694.356 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800), berpotensi mendorong kenaikan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan bisnis, serta memberi tekanan yang semakin besar pada program pensiun federal, menurut laporan yang dirilis Conference Board, Selasa, 18 Agustus 2026.

Dalam laporan berjudul “How the National Debt Affects All Generations of Americans”, lembaga riset bisnis nirlaba tersebut mencatat utang AS kini sekitar US$ 116.000 atau Rp 20,65 miliar per penduduk, berdasarkan data populasi per Juli 2026.

Mengutip Anadolu, Rabu, (19/8/2026), laporan ini memodelkan lima skenario fiskal untuk meneliti bagaimana perubahan defisit, suku bunga, dan stabilitas keuangan dapat memengaruhi mahasiswa yang membiayai pendidikan, keluarga yang membeli rumah, pensiunan yang bergantung pada jaminan sosial, hingga pemilik usaha kecil yang mencari pendanaan.

Laporan tersebut menemukan pengurangan defisit anggaran dapat menekan biaya pinjaman dan memperbaiki prospek fiskal negara, sementara defisit yang lebih besar disertai guncangan keuangan dapat meningkatkan secara signifikan biaya pinjaman mahasiswa, hipotek, dan pembiayaan bisnis.

Dalam skenario yang melibatkan gagal bayar utang AS (default) selama satu minggu, pembayaran pinjaman usaha kecil diperkirakan dapat meningkat hingga 21,6%, biaya pinjaman mahasiswa 8,7%, dan biaya perumahan hingga 6,7%.

"Utang nasional bukan sekadar angka dalam neraca pemerintah, utang ini memengaruhi keputusan keuangan yang dibuat warga Amerika Serikat setiap hari,” kata Presiden CEO Center di Conference Board, David K. Young.

"Utang yang lebih tinggi dapat berarti biaya pinjaman yang lebih tinggi, sumber daya yang lebih sedikit untuk prioritas nasional, dan ketidakpastian yang lebih besar seputar program pensiun," ia menambahkan.