Medan (ANTARA) - Universitas Sumatera Utara (USU) memperkuat kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melalui kegiatan edukasi mengenai investasi dan pengelolaan pembiayaan negara yang melibatkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama USU Himsar Ambarita di Medan, Kamis, mengatakan pihaknya menyambut baik kehadiran jajaran Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta para pemangku kepentingan lainnya dalam kegiatan tersebut.
"Silakan manfaatkan kesempatan ini dengan baik, belajarlah dari para praktisi dan pemangku kebijakan. Saya yakin akan banyak ilmu yang bisa diperoleh dari pertemuan ini," katanya.
Ia mengatakan kegiatan ini penting untuk memberikan pemahaman masyarakat mengenai sistem keuangan dan investasi.
Kehadiran narasumber yang memiliki pengalaman langsung di bidang keuangan dinilai dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada mahasiswa.
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pengembangan SBN ritel sebagai salah satu instrumen investasi.
"Edukasi mengenai sistem keuangan seperti ini sangat penting, ya, untuk melakukan investasi yang semata-mata tidak didasarkan kepada tren saja ataupun ajakan media sosial dan informasi yang belum tentu benar," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Ubaidi Socheh Hamidi menuturkan literasi keuangan bukan sekadar mengenai produk investasi, tetapi juga bekal untuk merencanakan keuangan, mengendalikan perilaku konsumtif, memahami risiko, serta memilih investasi yang legal dan sesuai kebutuhan.
Dinamika geopolitik, perubahan teknologi, serta perkembangan pasar keuangan terus menuntut masyarakat untuk terus-menerus makin adaptif.
Di tengah kondisi tersebut, juga telah terdengar laporan dari BPS bahwa pada triwulan II 2026 ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29 persen. Hal ini menjadi modal penting untuk terus menjaga momentum pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
"Dalam menghadapi perubahan tersebut, kemampuan mengelola keuangan bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan merupakan kompetensi dasar. Generasi muda perlu mampu mengelola, mengembangkan, dan melindungi aset keuangannya secara bijaksana," katanya.
Dengan adanya SBN, masyarakat tidak hanya mendukung pembiayaan pembangunan, tetapi juga mendapatkan manfaat finansial yang mendukung kesejahteraan individu.
Pemahaman yang baik mengenai instrumen investasi seperti SBN akan mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam mengelola aset dan perencanaan keuangan pribadi. Hal ini langkah awal untuk menciptakan budaya investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Pewarta: Juraidi
Editor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.