Padang (ANTARA) - Talempong Pacik sebagai salah satu warisan seni tradisional Minangkabau terus didorong untuk dikenalkan dalam lingkungan pendidikan sebagai media pembelajaran berbasis kearifan lokal, sekaligus sarana menumbuhkan karakter cinta budaya pada generasi muda.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan “Pelatihan Talempong Pacik sebagai Model Edukasi Seni Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Karakter Cinta Budaya Siswa Sekolah Dasar” yang dilaksanakan di MKKS Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman.
Kegiatan yang digelar pada (9/9) lalu, diikuti sebanyak 60 guru sekolah dasar yang berasal dari Kecamatan Batang Gasan, Sungai Geringging, dan Kampung Dalam.
Program pengabdian tersebut diketuai Prof. Dr. Ardipal, M.Pd., dan beranggotakan Drs. Muhammadi,, S.Pd., M.Si, P.hD, Dr. Desyandri., M.Pd, Prof. Dr. Farida Mayar, M.Pd, dan Dr. Ahmad Zikri., M.Pd yang juga tampil sebagai moderator acara.
Acara tersebut menghadirkan pelatihan yang menggabungkan pengenalan budaya Minangkabau, pemahaman mengenai Talempong Pacik, demonstrasi teknik permainan, serta praktik langsung.
“Talempong Pacik bukan sekadar alat musik tradisional. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, disiplin, kerja sama, dan identitas budaya Minangkabau yang sangat relevan untuk ditanamkan kepada peserta didik sejak sekolah dasar,” kata Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Ardipal, M.Pd., di Padang, Sabtu.
Menurutnya, pendidikan seni di sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun karakter peserta didik, karena siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami secara langsung proses mengenal dan menghargai budaya.
Ia menjelaskan guru memiliki peran penting sebagai penghubung antara warisan budaya dengan kehidupan generasi muda.
“Kalau anak-anak hanya mendengar bahwa Talempong Pacik adalah budaya Minangkabau, mereka mungkin hanya mengenalnya sebagai pengetahuan. Namun, ketika mereka melihat, memegang, mendengar bunyinya, dan memainkannya bersama, budaya itu menjadi pengalaman yang hidup,” jelasnya.
Pelatihan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengenalan Talempong Pacik, penjelasan mengenai sejarah dan fungsi kesenian tersebut dalam masyarakat Minangkabau, demonstrasi teknik dasar permainan, hingga praktik secara berkelompok.
Selain itu, para guru diberikan kesempatan untuk mempraktikkan teknik dasar permainan Talempong Pacik, sehingga diharapkan dapat menerapkannya kembali dalam kegiatan pembelajaran di sekolah masing-masing.

Pendekatan praktik langsung menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan karena guru tidak hanya memperoleh materi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman menggunakan alat musik tradisional sebagai media pembelajaran.
Prof. Ardipal mengatakan pembelajaran berbasis kearifan lokal perlu dikembangkan secara kreatif, agar budaya daerah tidak hanya ditempatkan sebagai materi tambahan dalam pembelajaran.
“Sekolah dapat menjadi ruang yang strategis untuk memastikan budaya lokal tetap dikenal oleh generasi muda. Kita ingin guru tidak hanya mengajarkan tentang budaya, tetapi juga mengajak siswa mengalami budaya tersebut,” katanya.
Menurutnya, Talempong Pacik memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai media edukasi seni yang dapat menghubungkan pembelajaran dengan lingkungan sosial dan budaya siswa.
Melalui permainan secara berkelompok, siswa dapat belajar mendengarkan, mengikuti pola irama, menjaga tempo, bekerja sama, dan menghargai peran anggota kelompok lainnya. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan pembentukan karakter siswa sekolah dasar.
Selain aspek keterampilan seni, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap budaya lokal.
Guru diharapkan mampu memperkenalkan Talempong Pacik dengan metode yang menyenangkan, sehingga siswa memiliki pengalaman positif ketika berinteraksi dengan kesenian tradisional.
“Cinta budaya tidak cukup hanya dengan meminta anak menghafal nama-nama kesenian daerah. Mereka perlu diberikan kesempatan untuk berinteraksi dan berkreasi dengan budaya tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan semakin kuatnya pengaruh budaya global menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan seni di sekolah dasar.
Menurutnya, sekolah perlu menghadirkan pembelajaran yang mampu mempertemukan budaya lokal dengan karakteristik generasi muda saat ini.
“Budaya lokal tidak harus dipertentangkan dengan perkembangan zaman. Justru sekolah dapat menjadi tempat untuk mempertemukan tradisi dengan kreativitas anak-anak,” katanya.
Prof. Ardipal menyampaikan bahwa pelatihan tersebut tidak berhenti pada penguasaan teknik dasar memainkan Talempong Pacik.
“Target kita bukan sekadar membuat guru bisa memainkan Talempong Pacik. Yang lebih penting adalah bagaimana guru dapat membawa pengalaman itu ke dalam kelas dan menjadikannya sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa,” nya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam mengembangkan model edukasi seni yang lebih kontekstual, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal, juga dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian budaya karena sekolah memiliki akses langsung kepada generasi penerus.
Melalui pengenalan seni tradisional sejak sekolah dasar, siswa diharapkan tumbuh sebagai generasi yang mengenal akar budayanya, memiliki rasa bangga terhadap daerahnya, serta mampu menghargai keberagaman budaya Indonesia.
Kegiatan tersebut, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi seni tradisional sebagai sumber belajar di lingkungan pendidikan dasar.
“Ketika anak mengenal budaya daerahnya sejak dini, kita sedang membangun jembatan antara generasi sekarang dengan generasi yang akan datang. Talempong Pacik harus tetap terdengar, bukan hanya di panggung budaya, tetapi juga di ruang-ruang pendidikan,” katanya.
Pelatihan tersebut menjadi ruang bagi guru dari tiga kecamatan untuk berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan pembelajaran seni, dan budaya di sekolah masing-masing.
Melalui kegiatan bersama, guru diharapkan dapat membangun jejaring dan mengembangkan praktik pembelajaran berbasis kearifan lokal secara berkelanjutan.
Guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat mengembangkan kegiatan lanjutan berupa praktik Talempong Pacik dalam pembelajaran seni, kegiatan ekstrakurikuler, maupun kegiatan budaya di sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, Talempong Pacik diharapkan tidak hanya tetap dikenal sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau, tetapi juga berkembang menjadi media edukasi seni yang mampu mendukung pembentukan karakter cinta budaya pada siswa sekolah dasar.
Kegiatan pelatihan tersebut mendapat respons positif dari para guru peserta. Guru terlihat aktif mengikuti penjelasan, demonstrasi, dan praktik permainan Talempong Pacik secara berkelompok.
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mencoba memainkan pola dasar Talempong Pacik, dan membangun kekompakan dalam kelompok.
Salah seorang peserta pelatihan, Ermi Yanti S. Pd mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran seni yang bersumber dari budaya daerah.
“Pelatihan ini membuka wawasan bahwa Talempong Pacik dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menarik. Guru tidak hanya mengajarkan seni, tetapi juga dapat menanamkan nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya daerah kepada siswa,” katanya.
Program pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan khususnya tujuan ke-4, Pendidikan Bermutu (Quality Education), karena mendorong pengembangan pembelajaran seni yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal melalui peningkatan kapasitas guru sekolah dasar.
Pelatihan Talempong Pacik tidak hanya memperkuat kompetensi pendidik dalam mengembangkan metode pembelajaran seni, tetapi juga mendukung pendidikan karakter serta pengenalan dan pelestarian budaya lokal kepada generasi muda.
