Lubuk Basung (ANTARA) - Sektor peternakan menghasilkan sumber daya sekaligus limbah yang masih dapat dimanfaatkan kembali. Pengelolaan pakan dan feses ternak secara terintegrasi menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Konsep peternakan sirkular menghubungkan pakan, ternak, limbah, pupuk, dan pemanfaatannya kembali dalam sistem produksi. Pendekatan tersebut memungkinkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Atas latar belakang itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas (Unand) melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) Batch III bertajuk “Pengembangan Peternakan Sirkular melalui Inovasi Pakan dan Pemanfaatan Feses Ternak sebagai Pupuk Organik di Kanagarian Gaduik, Kabupaten Agam”.
Tim pelaksana diketuai Prof. Indri Juliyarsi dengan anggota Prof. Mardiati Zain, Prof. Yusniwati, dan Prof. Sri Melia. Kegiatan juga melibatkan empat mahasiswa jenjang S1 dan S2. Program dilaksanakan berdasarkan kontrak Nomor 40/UN16.19/PM.03.03/PKM-DB/2026.
Kegiatan dilaksanakan di Kanagarian Gaduik, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan Pemerintah Nagari Gaduik, GAPOKTAN Gaduik Nan Limo Sakato, serta kelompok peternak sebagai mitra. Program diarahkan untuk meningkatkan kapasitas peternak dalam pengelolaan pakan dan pemanfaatan limbah peternakan.
Pelaksanaan program diawali dengan koordinasi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama Wali Nagari dan Pemerintah Daerah pada 30 Juli 2026. Tahap awal tersebut menjadi bagian dari proses mengidentifikasi kebutuhan masyarakat sekaligus menyelaraskan teknologi yang dikembangkan dengan kondisi peternakan di Gaduik.
Tahapan berikutnya dilaksanakan pada 15 Agustus 2026 dengan melibatkan GAPOKTAN dalam persiapan teknologi. Kelompok melakukan kunjungan ke bengkel untuk memastikan kesiapan mesin yang dibutuhkan dalam mendukung pengolahan pupuk organik dari limbah peternakan.
Pada 29 Agustus 2026, tim memberikan penyuluhan kepada peternak mengenai penyusunan formulasi ransum. Materi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peternak menyusun pakan dengan memanfaatkan bahan baku lokal sehingga sumber daya yang tersedia di sekitar wilayah peternakan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Pada waktu yang sama, GAPOKTAN memperoleh penyuluhan mengenai teknologi pengolahan pupuk organik. Feses sapi yang sebelumnya menjadi limbah peternakan diarahkan untuk diolah menjadi pupuk yang memiliki nilai guna sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan dan kegiatan pertanian masyarakat.
Penerapan teknologi memasuki tahapan berikutnya pada 20 September 2026 dengan pengantaran dan uji coba mesin pengolah pupuk organik di lokasi mitra. Tim bersama masyarakat dan anggota GAPOKTAN melakukan pengujian untuk memperkenalkan penggunaan peralatan dalam mendukung proses pengolahan bahan organik secara lebih efisien.
Teknologi pengolahan pupuk yang diperkenalkan mencakup tahapan pengumpulan feses ternak, pencacahan bahan, pencampuran bioaktivator, fermentasi, pengayakan hingga pengemasan. Keberadaan mesin tersebut juga diarahkan untuk memperkuat Unit Pengelolaan Pupuk GAPOKTAN Gaduik Nan Limo Sakato.
Program tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah. Tim mengintegrasikan inovasi formulasi pakan, pengolahan pupuk organik, budidaya hijauan pakan, pengemasan produk, pemasaran, serta penguatan kelembagaan masyarakat dalam satu sistem peternakan sirkular.
Pelaksanaan PKM-DB menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dipadukan dengan Transfer of Technology (ToT) dan pendampingan partisipatif. Masyarakat ditempatkan sebagai bagian aktif program mulai dari identifikasi permasalahan, penyusunan solusi, penerapan teknologi hingga evaluasi kegiatan.
Aspek pemberdayaan ekonomi juga menjadi bagian dari program melalui pengembangan Unit Pengelolaan Pupuk milik GAPOKTAN. Pengolahan feses ternak diharapkan tidak hanya membantu mengatasi persoalan limbah, tetapi juga menghasilkan pupuk organik yang dapat dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi.
Program akan terus dilaksanakan hingga Desember 2026. Tahapan selanjutnya mencakup pendampingan operasional mesin, produksi pupuk organik, standardisasi dan pengemasan produk, penerapan formulasi pakan, demonstration plot, penguatan administrasi usaha, pengembangan jejaring pemasaran, serta monitoring dan evaluasi.
Melalui rangkaian tersebut, program PKM-DB Universitas Andalas diarahkan untuk membangun model peternakan yang menghubungkan sumber daya lokal dalam satu siklus produksi, mulai dari pakan, ternak, feses, pengolahan pupuk hingga pemanfaatannya kembali. Model tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan peternakan sirkular yang dapat dikembangkan dan direplikasi di tingkat nagari.*
