Jakarta (ANTARA) - Perayaan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di era digital menghadirkan semangat kontribusi dari para pemuda yang lebih reflektif dan menyesuaikan perkembangan zaman.

Semangat tersebut ditunjukkan dengan konten media sosial yang semakin edukatif dan kreatif serta membahas berbagai isu pelik dan jarang dibicarakan oleh kebanyakan orang.

Tiga kreator konten Indonesia, Jerhemy Owen, Hendri Alejandro, dan Elsa Novia Sena menunjukkan bahwa dampak positif bagi masyarakat luas melalui media sosial bisa terjadi jika kontennya dibuat dengan pendekatan penyampaian yang sederhana.

Mereka mengemas isu lingkungan, ekonomi perdesaan, dan sejarah agar mudah dipahami masyarakat.

Jerhemy Owen aktif mengedukasi publik mengenai pelestarian lingkungan. Hendri Alejandro membantu pemasaran produk konveksi warga desanya, sedangkan Elsa Novia Sena memublikasikan cerita warisan budaya peranakan Tionghoa Cina Benteng serta cagar budaya dan pariwisata Tangerang agar dapat dikenali publik secara lebih baik.

Ketiga figur tersebut menggunakan pengalaman langsung di lapangan sebagai bahan konten. Mereka merekam kegiatan nyata mereka agar penonton dapat memahami informasi berat menjadi lebih ringan.

Jerhemy Owen tergerak membuat konten lingkungan setelah menempuh studi S1 Ilmu Lingkungan di Belanda.

Saat itu, ia mengaku kebingungan menghadapi materi mengenai emisi karbon dan jejak karbon (carbon footprint) di perkuliahan karena istilah tersebut terasa asing bagi pemula.

Pengalaman tersebut menyadarkan Owen bahwa isu lingkungan sering kali terlalu berat untuk disampaikan.

Sehingga ia pun terdorong untuk mengedukasi publik menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Keinginan untuk terus membagikan edukasi lingkungan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian warga itulah yang kemudian membawanya memperluas aksi nyata melalui berbagai program yang digagasnya sejak aktif di media sosial.

Setelah lulus, Owen diundang ke forum lingkungan global COP 29 PBB di Azerbaijan. Diskusi dalam acara tersebut melahirkan gerakan Wenanam di Aceh.

Program itu memadukan aksi penanaman pohon di wilayah Aceh yang terdampak bencana banjir dan longsor dengan edukasi digital tentang kegiatan penanaman pohon.

Jenis tanaman yang dipilih mencakup pohon pionir, tanaman pelindung habitat (barrier) alami satwa liar, serta tanaman produktif (agroforestry) berupa kopi dan durian yang hasilnya dapat meningkatkan ekonomi warga.

Komitmen Owen terhadap pemulihan ekosistem Indonesia juga tidak berlangsung di Sumatera.

"Kami juga ada pembangunan akses air bersih, yaitu Wengalir, membangun akses air bersih di Nusa Tenggara Timur, juga membangun sekolah," kata pemilik akun @jerhemynemoo itu.

Kreator konten pelestarian lingkungan Jerhemy Owen membagikan cara menjadi konten kreator yang populer dan dapat memberi dampak positif saat ditemui di sela acara di Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2026). ANTARA/Abdu Faisal

Ragam inisiatif tersebut menegaskan konsistensinya dalam menjembatani isu ekologi yang berat agar dapat diterima dan dikerjakan bersama oleh masyarakat luas.

Kisah pemanfaatan sosial media untuk menggerakkan masyarakat secara nyata juga dialami oleh Hendri Alejandro di pembuatan konten edukasi sektor ekonomi perdesaan.

Pemuda asal Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, ini memulai langkahnya pada akhir tahun 2021 melalui pengelolaan kedai kopi mandiri, di mana ia kerap mengantar pesanan langsung menggunakan sepeda motor dan berinteraksi dengan para pelanggan setianya.

Dari obrolan teras dengan para pelanggan tersebut, Hendri mendapati fakta bahwa sebagian besar dari mereka merupakan perajin konveksi pakaian bayi rumahan yang usahanya tengah berada di ujung tanduk akibat hantaman pandemi COVID-19.

Hendri bersama tim membentuk wadah digital berupa toko digital di media sosial bernama @Ibun_mall untuk membantu memasarkan produk konvensi lokal tersebut dengan mengoptimalkan fitur siaran langsung di media sosial.

Kreator konten gaya hidup Hendri Alejandro membagikan cara menjadi konten kreator yang populer dan dapat memberi dampak positif saat ditemui di sela acara di Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2026). ANTARA/Abdu Faisal

Aktivitas siaran langsung secara rutin membuat mereka belajar bahwa penyampaian aktivitas harian warga perdesaan secara apa adanya dalam video promosi dapat membantu memulihkan usaha para perajin serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Keberhasilan Hendri dalam merangkum realitas kehidupan perdesaan ke dalam siaran langsung dan platform toko digital Ibun Mall memperlihatkan bahwa konten yang berpijak pada kedekatan dengan realitas mampu memberikan solusi ekonomi yang nyata bagi warga desa.

Selain harus jujur, konten yang memiliki kedekatan emosional turut dirasakan penting oleh Elsa Novia Sena, selama perjalanan karir kreatifnya di platform digital.

Elsa, yang memiliki latar belakang pendidikan sebagai lulusan ahli gizi, awalnya memproduksi konten bertema makanan rumahan yang sehat di sosial media sesuai latar pendidikannya.

Konten video tersebut terus dibuat sekian rupa, namun ia merasa hasilnya belum maksimal.

Titik baliknya terjadi pada November 2022 saat ia mendokumentasikan prosesi peringatan satu tahun kematian neneknya dalam tradisi adat Tionghoa.

Tanpa diduganya, video dokumentasi keluarga tersebut menembus lebih dari satu juta penonton karena memicu rasa ingin tahu masyarakat luas.

Melalui pengalaman tersebut, Elsa menyadari bahwa konten yang berdampak adalah konten yang memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan sehari-harinya.

Didorong kesadaran tersebut, serta ketertarikannya pada sejarah keluarga peranakan Tionghoa setelah sempat mengikuti program pertukaran pelajar di Taiwan, Elsa memutuskan untuk memublikasikan video empat hingga enam kali seminggu guna merangkum materi sejarah menjadi narasi sehari-hari yang mudah dipahami generasi muda.

Elsa berfokus pada topik-topik yang banyak ditanyakan pengikutnya setiap kali siaran. Melalui materi yang ia peroleh dari video tersebut, ia kemudian mengangkat kasus perusakan (vandalisme) makam kapiten Tionghoa terakhir di Tangerang yang sempat memicu perhatian publik.

Elsa melihat tingginya kepedulian penonton terhadap pelestarian warisan sejarah.

Ia kemudian mengembangkan edukasi berbasis digital itu menjadi kegiatan luar jaringan (luring) lewat tur wisata jalan kaki, Benteng Walking Tour, di kawasan Pasar Lama Tangerang agar pengikutnya bisa melihat visual situs sejarah secara langsung di lapangan dan memahami nilai-nilai akulturasi budaya dan toleransi dalam keberadaan kelenteng dan masjid tua yang terletak berdampingan, dan lain-lain.

Tur tersebut tidak hanya diikuti orang lokal, tetapi merambah luas sampai luar Tangerang.

"Bahkan pernah juga ada orang Malaysia, ada Belanda juga pernah, Jepang, sama kemarin juga dari China ada," kata pemilik akun @elsa.novias itu mengenai peserta kegiatan tur yang dia adakan.

Kreator konten pelestarian budaya dan sejarah Tionghoa Elsa Novia Sena saat ditemui di sela acara di Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2026). ANTARA/Abdu Faisal

Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh Owen, Hendri, dan Elsa itu melahirkan sebuah kesimpulan bahwa di era digital, isu-isu pelik yang selama ini berjarak dengan publik ternyata dapat menemukan momentumnya saat disampaikan lewat cerita yang sederhana.

Ketika kepedulian terhadap lingkungan disuarakan secara membumi, perjuangan konveksi warga desa direkam dengan jujur, dan penelusuran sejarah cagar budaya dituturkan secara emosional, media sosial berhenti sekadar menjadi panggung hiburan penunjang algoritma.

Ia juga mampu menularkan kesadaran kolektif yang mampu mengubah penonton pasif menjadi pelaku dari sebuah perubahan di kehidupan nyata dan mengisi kemerdekaan secara positif.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.