BANTUL -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menargetkan pembangunan tujuh Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembangkan kawasan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Sekretaris Jenderal KKP RI, Andy Artha Donny Oktopura, mengatakan satu KNMP telah dibangun pada 2025 di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Sementara itu, enam lokasi lainnya direncanakan dibangun pada 2026 di sejumlah wilayah pesisir DIY. KKP juga membuka peluang pembangunan kampung nelayan baru di wilayah DIY pada 2027.
"Untuk di Yogyakarta tahun 2025 itu ada satu, yaitu di Poncosari. Di tahun 2026 ini ada enam di beberapa lokasi, termasuk di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul," kata Andy dalam acara perayaan Hari Jadi ke 27 KKP di KNMP Poncosari, Kabupaten Bantul, Kamis (22/10/2026).
Andy menjelaskan, pengembangan KNMP merupakan bagian dari program strategis pemerintah untuk mentransformasi kawasan pesisir. Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur perikanan, tetapi juga diarahkan untuk memperbaiki tata kelola usaha dan meningkatkan produktivitas nelayan.
Secara nasional, pada periode 2025–2026, KKP menargetkan pembangunan 1.369 titik KNMP di berbagai daerah di Indonesia. Andy menyebut sebanyak 1.269 titik masih dalam proses konstruksi, sedangkan 100 titik lainnya telah memasuki tahap persiapan operasional, termasuk KNMP Poncosari.
KKP menargetkan seluruh titik dalam program tersebut siap beroperasi pada awal 2027. Untuk mencapai target itu, pemerintah tidak hanya menyelesaikan pembangunan fisik, tetapi juga menyiapkan pendampingan bagi nelayan dan pengelola koperasi.
"Proyeksi kami KNMP ini bisa jadi pusat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat yang ada di sini, sehingga masyarakat nelayan akan lebih sejahtera dan bisa naik kelas," ucapnya.
Menurut dia, keberadaan fasilitas pendukung di kampung nelayan diharapkan membantu masyarakat menjaga mutu hasil tangkapan, meningkatkan efisiensi kegiatan usaha, serta memperoleh nilai jual ikan yang lebih baik. Salah satu fasilitas yang didorong pemanfaatannya adalah gudang beku portabel untuk menyimpan hasil tangkapan agar kualitas ikan tetap terjaga. Nelayan juga mendapatkan edukasi mengenai penggunaan teknologi penyimpanan es yang sesuai.
"Pembangunan kampung nelayan merah putih ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga bagaimana membangun transformasi budaya dan tata kerja yang ada di nelayan," ujarnya.
"Mungkin tadinya nelayan itu kalau beli es mungkin es balok, sekarang kan kita ada slurry ice. Nah, itu kan bentuk edukasi. Ya, itu butuh kebiasaan diri. Kita harus menjelaskan kepada teman-teman nelayan apa perbedaan dan apa manfaatnya penggunaan slurry ice," kata dia.
Yang kedua, ujar Andy, mungkin tadinya nelayan usai menangkap ikan langsung dijual. Sekarang dengan adanya gudang beku portable menurut Andy hasil tangkapannya bisa disimpan dan mutunya tidak turun.
"Sehingga harganya pun tetap mendapatkan harga yang tinggi," kata Andy.