Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pejabat AS dan Iran menggelar pembicaraan pada Selasa (22/9/2026), tidak lama setelah ia mengancam akan "memusnahkan" Iran dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ancaman itu disampaikan Trump jika kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tujuh bulan tidak segera tercapai.
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dua utusan utamanya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bertemu dengan para pejabat Iran selama sekitar tiga jam di sela-sela pertemuan tahunan para pemimpin dunia tersebut.
"Itu pertemuan yang sangat baik," kata Trump seperti dilaporkan Associated Press.
Ia menambahkan bahwa pejabat Iran yang terlibat "bukan dari tingkat tertinggi, tetapi ini tetap merupakan sesuatu."
Witkoff kemudian menjelaskan melalui unggahan di X bahwa pembicaraan berlangsung secara tidak langsung. Para mediator bolak-balik antara tim AS dan Iran untuk menyampaikan pesan dari masing-masing pihak.
Ia berharap upaya tersebut akan membuahkan hasil yang konstruktif dan menjanjikan.
Kontak tersebut menjadi perkembangan baru setelah komunikasi antara AS dan Iran selama berbulan-bulan nyaris tidak mengalami kemajuan sejak gencatan senjata singkat pada Juni gagal bertahan.
Peluang untuk membuka kembali jalur diplomasi juga disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sebelumnya pada Selasa, Rubio mengatakan Trump terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama keduanya berada di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.
"Presiden ini pada dasarnya bersedia bertemu dengan siapa pun karena ia percaya bahwa berkomunikasi dengan orang lain penting jika ingin menyelesaikan masalah," kata Rubio dalam acara 'Today' di NBC.
"Itu tidak berarti Anda pada akhirnya akan sepakat dengan mereka, tetapi pertemuan semacam itu penting."
Selain membuka peluang komunikasi dengan Iran, Trump pada hari yang sama juga bertemu dengan para pemimpin dan pejabat senior negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, serta Yordania.
Pertemuan itu membahas langkah selanjutnya terkait perang Iran.
Isu Iran menjadi bagian utama pidato Trump di Sidang Majelis Umum PBB. Dalam pidatonya, Trump berusaha menunjukkan bahwa dirinya telah mengambil sikap tegas ketika para pemimpin lain dinilainya masih bimbang. Ia sekaligus membela keputusannya memulai perang Iran.
Meski demikian, Trump mengisyaratkan bahwa ia kini menghadapi keputusan penting mengenai kelanjutan konflik tersebut.
Ia mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya dan kembali ke meja perundingan untuk mencari jalan keluar guna mengakhiri perang.
"Saya harus membuat keputusan besar," kata Trump.
"Apakah akan ada kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali negaranya dan menjadikannya jauh lebih hebat daripada sebelumnya, mungkin salah satu negara terhebat di Timur Tengah atau bahkan dunia. Atau apakah saya akan memusnahkan Republik Islam (Iran) dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah lagi memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang maupun negara lain?"
Pidato Trump di Sidang Majelis Umum PBB tidak hanya membahas Iran. Ia juga menyinggung operasi militer AS tahun ini yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, memuji kesepakatan baru untuk memperluas kehadiran militer AS di Greenland, serta menolak seruan agar industri kecerdasan buatan diatur lebih ketat.
Namun, isu perang Iran tetap menjadi salah satu fokus utama pidatonya. Trump membela perang tersebut sekaligus menolak anggapan bahwa Iran masih mampu bertahan menghadapi tekanan.
"Rezim teroris itu bertindak buruk bukan karena mereka kuat dan percaya diri, melainkan karena mereka lemah dan putus asa," kata Trump.
Sebagian besar anggota delegasi Iran meninggalkan ruang sidang ketika Trump melontarkan kecaman terhadap negara tersebut.