Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump melontarkan kecaman keras setelah Iran membantah tengah bernegosiasi lagi dengan Amerika Serikat. Trump menyatakan bahwa blokade militer AS akan terus berlanjut sampai tercapai "kesepakatan atau penyerahan total."

Trump menyebut rezim Iran "bermuka dua" karena secara "terbuka dan terang-terangan" mengatakan bahwa pihaknya tidak sedang bernegosiasi.

"Kepemimpinan Iran benar-benar sangat bermuka dua! Mereka meminta pertemuan-bahkan ada yang menyebutnya "memohon"-pembicaraan dimulai, dengan pertemuan lanjutan yang sudah dijadwalkan dalam waktu dekat, tetapi kemudian mereka secara terbuka dan terang-terangan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan pembicaraan apa pun, tidak ada yang sedang dibahas, dan mereka hanya berurusan dengan Oman," kata Trump dalam unggahannya di Truth Social pada Senin (3/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Entah Iran mau mengakuinya atau tidak, kami sebenarnya sedang membicarakan solusi atas masalah yang telah mereka timbulkan selama puluhan tahun," paparnya menambahkan.

Pernyataan Trump itu disampaikan setelah Iran mengatakan tidak ada pembicaraan langsung dengan Washington, bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya bahwa negosiasi akan berlangsung ketika ia membatalkan rencana serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada akhir pekan.

Dikutip AFP, Trump mengatakan keputusan itu diambil setelah mendapat permintaan dari sejumlah negara di kawasan dan dari Teheran.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada Senin bahwa satu-satunya pembicaraan yang sedang dilakukan adalah dengan Oman, terkait rencana pembagian kendali atas Selat Hormuz.

Trump bersikeras bahwa Iran sebelumnya telah meminta pembicaraan. Trump mengeklaim "bahkan ada yang menyebutnya (Iran) memohon", tetapi kini kembali melontarkan "omong kosong seperti biasanya" mengenai kendali atas Hormuz.

Menurut Trump, Selat Hormuz "sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat" melalui "blokade" atau, sebagaimana ia menyebutnya, "Tembok Baja Amerika Serikat!"

"Mereka (Iran) kemudian kembali melontarkan omong kosong seperti biasanya dengan mengatakan bahwa Selat Hormuz akan mereka kendalikan dengan kuat, padahal selat tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Amerika Serikat melalui 'Blokade' kami atau, sebagaimana sebagian orang menyebutnya, 'Tembok Baja Amerika Serikat'!"

Pilihan Redaksi

  • Iran-Oman Bahas Masa Depan Selat Hormuz, Apa Isinya?
  • Sejarah Hubungan Mesra Maroko-Israel saat Tegang Imigran Serbu Spanyol
  • Makna 'Baret Merah' & Medali Militer Thailand yang Diterima Prabowo

Ia menegaskan bahwa tidak ada apa pun yang dapat melewati selat menuju Iran kecuali jika AS mengizinkannya, dan tidak akan ada yang dapat masuk hingga tercapai "kesepakatan atau penyerahan total."

Trump bersama Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.

Tujuan awal serangan tersebut mencakup penghancuran industri nuklir dan rudal Iran, serta mendorong pemberontakan rakyat untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Lebih dari lima bulan kemudian, Iran masih mampu meluncurkan rudal dan drone ke sasaran-sasaran militer AS dan sekutunya di kawasan, serta masih memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya.

Terlepas dari tekanan AS, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz telah memberikan dampak besar terhadap perdagangan energi global, sekaligus memberi Teheran nilai tawar baru yang kuat dalam bernegosiasi dengan Washington.

(rds)

[Gambas:Video CNN]