REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mulai berkurang setelah sempat mengalami kepadatan. Evaluasi pengaturan kendaraan, termasuk truk dengan muatan Over Dimension Over Loading (ODOL), dinilai perlu dilakukan untuk menjaga kelancaran layanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menilai kapasitas dermaga di Ketapang sebenarnya memadai. Menurut dia, persoalan muncul ketika kendaraan dengan dimensi dan muatan melebihi ketentuan masuk ke area pelabuhan.
“Kepadatan di Ketapang bukan karena pelabuhan tidak siap melayani akan tetapi dikarenakan kendaraan truk ODOL melebihi kapasitas dermaga yang tersedia. Secara jumlah dermaga sudah sangat banyak dan harusnya apabila truk sesuai dengan ketentuan yang datang ke pelabuhan, tidak akan ada kemacetan sedikitpun,” kata Siswanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Siswanto juga menyoroti masuknya truk ODOL setelah adanya aksi pemblokiran di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Menurut dia, kondisi tersebut perlu ditangani karena dapat berdampak terhadap keselamatan pelayaran dan kelancaran distribusi barang.
“Kapal menjadi tidak dapat sandar di pelabuhan, mengganggu kelancaran distribusi barang, dan menghambat perekonomian,” ungkap Siswanto.
Dia menilai pengaturan di lapangan perlu dilakukan secara konsisten agar aktivitas penumpang dan kendaraan tidak terganggu. Siswanto juga meminta pihak keamanan memastikan operasional pelabuhan tetap berjalan.
“Pihak keamanan pelabuhan, kepolisian dan TNI harus bertindak tegas. Negara jangan sampai kalah dengan segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka harus ditindak tegas atas kejadian yang membahayakan dan merugikan masyarakat,” kata Siswanto.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR Edi Purwanto meminta Kementerian Perhubungan, ASDP, dan pemerintah daerah melakukan evaluasi bersama terhadap penanganan kepadatan di Ketapang. Evaluasi tersebut dinilai perlu mencakup seluruh proses pelayanan kendaraan hingga pengoperasian kapal.
“Evaluasi perlu melihat kapasitas pelabuhan, pengaturan kendaraan sebelum masuk pelabuhan, proses boarding, bongkar muat, kesiapan kapal hingga pengaturan arus kendaraan di jalan menuju Ketapang,” kata Edi.
Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry Heru Widodo mengatakan, pergerakan kendaraan di Pelabuhan Ketapang pada Jumat mulai terkendali. Sekitar pukul 14.00 WIB, antrean kendaraan tercatat sekitar 0,5 kilometer, sedangkan arus kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk berlangsung lancar.
“Kami terus memantau perkembangan arus kendaraan dan penumpang secara berkala, sekaligus menyesuaikan pola operasi kapal dengan kondisi aktual di lapangan. Perkembangan antrean yang semakin terkendali menjadi bagian dari proses pemulihan layanan yang terus kami dorong,” ujar Heru.
Menurut Heru, ASDP terus menyesuaikan kapasitas layanan di lintasan Ketapang-Gilimanuk dengan pergerakan penumpang dan kendaraan. Sebanyak 27 kapal saat ini dioperasikan melalui sejumlah dermaga di Pelabuhan Ketapang.
“Saat ini, sebanyak 27 kapal dioperasikan melalui sejumlah dermaga di Pelabuhan Ketapang, terdiri dari lima kapal di Dermaga MB 1, lima kapal di Dermaga MB 3, 12 kapal di Dermaga LCM, dan lima kapal di Dermaga MB 4,” kata Heru.
Pengoperasian kapal juga disesuaikan dengan kesiapan armada dan kebutuhan pelayanan. Selain kapal reguler, KMP Portlink VII diperbantukan di Dermaga MB 4 untuk menambah kapasitas layanan di lintasan tersebut.