Jakarta, CNN Indonesia --
Tren gaya hidup baru tengah melanda turis China. Makin banyak pelancong dari Negeri Tirai Bambu yang membeli pakaian murah khusus demi foto liburan, untuk kemudian dibuang atau dijual kembali setelah pulang ke rumah.
Fenomena yang dijuluki disposable clothing atau pakaian sekali pakai ini mendadak viral di media sosial China. Tagar terkait tren ini telah mengumpulkan lebih dari 6,8 juta tayangan dan memicu 135 ribu diskusi di satu platform digital.
Model pakaian yang dibeli umumnya dibanderol dengan harga amat terjangkau, berkisar antara 10 hingga 50 yuan (sekitar Rp26 ribu hingga Rp133 ribu).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang turis wanita mengaku menghabiskan kurang dari 200 yuan (sekitar Rp534 ribu) untuk membeli lima potong pakaian selama perjalanan tujuh hari, tanpa berniat menyimpannya setelah liburan usai, melansir South China Morning Post.
Pilihan Redaksi
- Turis China Pakai Sampul Paspor Taiwan demi Bisa Berlibur ke Jepang
- Efek Juara Piala Dunia, Spanyol Ramai Diserbu Turis China
- Turis China Kena Teguran Usai Lindas Situs Batu Purba Pakai Motor
Istilah disposable clothing merujuk pada pakaian bertema khusus yang dibeli hanya untuk dipakai satu atau dua kali saat berfoto. Jenisnya beragam, mulai dari gaun etnik berenda, jubah pantai, hingga jaket berbahan warna mencolok, mengutip laporan News Pedaily.
Desain unik ini dianggap sangat estetis untuk kebutuhan konten foto, namun terlalu mencolok atau formal jika dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.
Maraknya tren ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet. Sebagian menilai strategi ini jauh lebih hemat ketimbang membeli pakaian mahal yang jarang terpakai.
"Ini ide yang bagus dan sangat membantu menghemat anggaran liburan," tulis salah satu warganet di media sosial.
Namun, kritik keras berdatangan dari kelompok yang peduli terhadap lingkungan. Mereka menyoroti lonjakan limbah tekstil yang berpotensi memperparah krisis lingkungan global.
"Makin banyak pakaian yang dibuang, makin besar limbah yang kita ciptakan," kritik warganet lainnya.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan secara global setiap tahunnya. Produksi tekstil dunia melonjak dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2015, sementara usia pemakaian pakaian justru merosot hingga 36 persen.
Ironisnya, data tahun 2023 menunjukkan hanya delapan persen serat tekstil yang berasal dari bahan daur ulang, sementara produk pakaian dan tekstil menyumbang sekitar 11 persen dari total sampah plastik dunia.
(wiw)