Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan, jumlah titik panas (hotspot) di Sumatra Selatan, per hari ini, Senin (7/9/2026) telah turun sekitar 49%. Di sisi lain, Kemenhut menyebut titik panas secara nasional masih meningkatkan peningkatan dibandingkan Sabtu, 5 September 2026.
Ditambahkan, penurunan di Sumatra Selatan mencapai 59 hotspot dalam satu hari. Di saat bersamaan, kondisi penurunan hotspot juga terpantau di Riau.
Ini adalah data untuk hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Artinya, anomali suhu di titik tersebut memiliki tingkat probalitas tinggi adalah bersal dari api atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Pemantauan terbaru menunjukkan perkembangan positif di Sumatra Selatan, dengan hotspot tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) turun hampir separuh dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara, peningkatan hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perhatian dalam penguatan operasi di lapangan," demikian mengutip keterangan resmi Kemenhut.
"Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, pada Minggu, 6 September 2026 pukul 21.25 WIB terdeteksi 674 hotspot high confidence secara nasional, meningkat dibandingkan 558 titik pada 5 September 2026," lanjut Kemenhut.
Dijelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Artinya, tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Berikut sebaran hotspot high confidence di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla:
- Kalimantan Tengah: 243 titik
- Kalimantan Barat: 138 titik
- Sumatra Selatan: 61 titik
- Jambi: 26 titik
- Kalimantan Selatan: 20 titik
- Riau: 7 titik.
"Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan," tulis Kemenhut.
"Perkembangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat membuat kedua provinsi tersebut menjadi perhatian utama dalam penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, dan pengendalian agar api tidak meluas," tambah Kemenhut.
Operasi pengendalian terus dilakukan oleh Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak lainnya. Mulai dari patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi untuk mencegah penyalaan kembali.
Selain operasi darat, pemerintah tetap mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Dari jumlah tersebut, 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dan, 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.
"Pengerahan armada dilakukan sesuai kebutuhan dan perkembangan kondisi lapangan. OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung operasi pengendalian," jelas Kemenhut.
Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat
Sementara, hasil pantauan pemerintah, kondisi pada 6 September 2026 menunjukkan kualitas udara masih bervariasi. Sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan pada sebagian area terpantau kategori berbahaya, sementara sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada pada kategori baik hingga sedang.
Pemantauan BMKG terhadap cuaca penerbangan pada malam 6 September 2026 juga menunjukkan kondisi jarak pandang yang berbeda di enam provinsi prioritas:
- Pontianak: sekitar 2 kilometer, berasap
- Palangka Raya: sekitar 8 kilometer, berawan
- Banjarmasin: sekitar 9 kilometer, cerah berawan
- Palembang: 10 kilometer atau lebih, berawan
- Jambi: sekitar 7 kilometer, berawan
- Pekanbaru: sekitar 8 kilometer, cerah berawan.
"Kondisi Pontianak masih menjadi perhatian karena BMKG mencatat jarak pandang sekitar 2 kilometer disertai kondisi berasap. Sementara, jarak pandang di kota-kota prioritas lainnya relatif lebih baik pada waktu pengamatan tersebut," ungkap Kemenhut.
"Jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, aktivitas kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta dinamika atmosfer," tambah Kemenhut.
Kemenhut mengimbau agar masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
"Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected]," demikian imbauan Kemenhut.
Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat dukungan inovasi dari Korbrimob Polri untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut. (Dok. Polda Kalimantan Tengah) Foto: Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat dukungan inovasi dari Korbrimob Polri untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut. (Dok. Polda Kalimantan Tengah)
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]