Jakarta (ANTARA) - CASA Indonesia menghadirkan The Lounge by CASA di Art Jakarta 2026 pada 2–4 Oktober di Art Jakarta 2026, mengusung tema “CHROMA” yang mengeksplorasi warna sebagai pengalaman ruang melalui empat perspektif desain yang diterjemahkan oleh Studio Talk, K-Thengono Design Studio, Rumanara, dan Spatial Sonata.

Eksplorasi inilah yang diangkat CASA Indonesia melalui “The Lounge by CASA” di Art Jakarta 2026, yang akan berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

Mengusung tema "CHROMA” The Lounge by CASA menjadikan warna sebagai titik awal untuk mengeksplorasi bagaimana desain dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih imersif.

CASA Indonesia merupakan media premium yang berfokus pada arsitektur, desain interior, travel, dan lifestyle. Sebagai bagian dari MRA Media Group, CASA Indonesia secara konsisten menghadirkan informasi terdepan mengenai tren desain serta karya arsitektur dan desainer dari dalam maupun luar negeri.

Sebelumnya dikenal sebagai Bravacasa Indonesia, majalah CASA Indonesia merupakan franchise dari Bravacasa Italia yang pertama kali terbit pada September 2008. CASA Indonesia dikenal melalui perpaduan elemen kreatif dan estetika dengan budaya lokal serta tren global, serta memiliki komunitas yang terdiri dari arsitek, desainer, art collector, design enthusiast, dan berbagai kalangan lainnya.

Melalui komunitas tersebut, CASA Indonesia turut menjembatani kolaborasi antara desainer, brand, dan komunitas kreatif untuk mendorong inovasi dan perkembangan industri kreatif di Indonesia.

Art Jakarta sendiri menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan berbagai praktik kreatif di kawasan.

Diselenggarakan di bawah MRA Media, Art Jakarta mempertemukan galeri, seniman, kolektor, institusi budaya, hingga berbagai pelaku industri kreatif dalam satu ekosistem seni kontemporer.

Di tengah pertemuan tersebut, VIP Lounge menjadi ruang sosial yang mempertemukan figur-figur dari dunia seni, desain, dan kolektor sepanjang penyelenggaraan pameran.

Raisa Benaya Ranti selaku Managing Editor CASA Indonesia mengatakan, "Tahun kedua ini terasa istimewa bagi kami, karena kami percaya kolaborasi seperti ini tumbuh lebih bermakna setiap kali
diulang. Lewat The Lounge by CASA, kami ingin terus menjadi ruang bagi para arsitek dan desainer Indonesia untuk bereksperimen dan menerjemahkan idenya ke dalam bentuk yang bisa dirasakan, bukan hanya dilihat.

Kali ini kolaborasi kami semakin besar, melibatkan empat expert dengan warna dan karakter yang berbeda-beda. Satu VIP Lounge ini akan dibagi menjadi empat area dengan konsepnya masing-masing."

Bagi CASA Indonesia, kehadiran di Art Jakarta menjadi kesempatan untuk membawa desain keluar dari batas-batas ruangnya sendiri. Tahun ini, melalui The Lounge by CASA, CASA menghadirkan sebuah immersive design showcase yang mengajak empat studio desain menerjemahkan tema CHROMA melalui perspektif dan pendekatan visual masing-masing.

Mengangkat kembali salah satu elemen paling mendasar dalam seni dan desain, yaitu warna, CASA memperlihatkan bagaimana satu bahasa visual dapat diterjemahkan menjadi empat interpretasi yang berbeda, dengan setiap ruang memiliki karakter dan identitasnya sendiri namun tetap terhubung dalam satu benang merah.

Mita Soedarjo selaku Direktur MRA Media mengatakan, "Sebagai bagian dari MRA Media, CASA Indonesia memiliki peran untuk terus menghadirkan dan memperluas percakapan mengenai arsitektur, desain, serta perkembangan industri kreatif di Indonesia.

Melalui The Lounge by CASA di Art Jakarta  2026, peran tersebut kami bawa ke dalam sebuah pengalaman yang mempertemukan berbagai perspektif desain melalui tema CHROMA.

Kehadiran empat studio dengan pendekatan yang berbeda menjadi representasi bagaimana CASA Indonesia sebagai media dapat menjadi ruang untuk mengangkat ide, karya, dan perspektif kreatif sekaligus mempertemukannya dengan komunitas dan audiens yang lebih luas”.

CHROMA, yang merujuk pada kemurnian dan intensitas sebuah warna, menjadi dasar dari keseluruhan pengalaman The Lounge by CASA tahun ini.

Warna tidak ditempatkan sekadar sebagai lapisan dekoratif, melainkan menjadi fondasi yang membentuk ruang, emosi, serta cara pengunjung mengalaminya. Terinspirasi dari permainan LUDO yang sederhana dan akrab, konsep visual The Lounge by CASA menerjemahkan warna dan bentuk menjadi empat area dengan karakter berbeda.

Masing-masing membawa satu pendekatan desain: DECLARATION, EXPRESSION, DIMENSION, dan ILLUSION.

Keempatnya menjadi empat cara untuk melihat bagaimana sebuah warna dapat diterjemahkan menjadi bentuk, atmosfer, dan pengalaman ruang. Keempat biro desain dan arsitek itu adalah Studio Talk, K Thenggono Design Studio, Rumanara, dan Spatial Sonata.

Pada area DECLARATION, Studio Talk menghadirkan bahasa desain yang berani, grafis, dan memiliki kehadiran yang kuat. Berbasis di Jakarta dan Bali, studio ini didirikan oleh Talisa Danubrata, Adi Janitra, Anissa Santoso, Levina Limanjaya, dan Karina Wiriadidjaja, serta dikenal melalui pendekatan yang menyeimbangkan fungsi, material, emosi, dan pengalaman manusia.

Dalam konteks The Lounge by CASA, karakter tersebut diterjemahkan melalui gestur ruang yang tegas, bentuk skulptural, permainan cahaya, dan atmosfer yang terasa kuat tanpa kehilangan sisi refined.

“Studio Talk selalu mengusung fun, playful, dan family friendly. Saat diajak berkolaborasi dengan CASA untuk warna merah yang bold, dramatic, dan graphic, kami terinspirasi dari konsep board game Ludo itu sendiri untuk konsep declaration. Kami terapkan lewat flooring checker board yang jadi ide utama sekaligus pembagi zona:bdining corner, lounge corner, dan kids corner. Di tiap perancangan kami, selalu ada playful twist di ruang kami yang bisa dilihat di VIP Lounge nanti,” ujar Studio Talk.

Berbeda dari karakter tersebut, EXPRESSION menjadi ruang bagi energi yang lebih spontan dan bergerak.

K-Thengono Design Studio, studio berbasis di Jakarta Utara yang didirikan oleh desainer Kelvin Thengono, membawa pendekatan yang eksploratif melalui bentuk-bentuk fluid, komposisi spasial yang dinamis, serta pertemuan antara seni, craftsmanship, dan arsitektur.

Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui eksplorasi bentuk dan ruang yang tidak hanya mengandalkan fungsi, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang lebih intuitif dan emosional. Untuk The Lounge by CASA, pendekatan ini diwujudkan melalui eksplorasi warna kuning yang ceria serta permainan bentuk dan ruang yang terinspirasi dari childhood memory.

“Untuk The Lounge by CASA, kami menghadirkan Gravity as a Sculpture dengan warna kuning yang ceria, terinspirasi dari childhood memory lewat bentuk bed fortress menggunakan waste fabric yang di-attach dengan gravitasi. Ada dua space, satu lebih intimate dan remang, satu lagi di-compress secara horizontal membentuk imaginary world,” jelas Kelvin Thengono.

Sementara itu, DIMENSION mengeksplorasi ruang melalui kedalaman, lapisan, material, dan volume. Rumanara, yang didirikan oleh Dwi Andika, menghadirkan pendekatan yang intim sekaligus sophisticated, dengan perpaduan antara kehangatan organik, tekstur berlapis, serta perhatian pada bagaimana manusia bergerak dan merasakan sebuah ruang.

Terinspirasi dari lukisan Green Wheat Field with Cypress karya Van Gogh, pendekatan ini diterjemahkan menjadi ruang yang tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi perlahan mengungkap pengalaman melalui cahaya, material, dan atmosfer.

Dwi Andika mengatakan, "Untuk The Lounge by CASA, kami mengangkat warna hijau yang melambangkan dimension, terinspirasi dari backyard yang dekat dengan alam dan berkesan santai. Kami ingin menghadirkan ruang yang terasa seperti taman dengan paviliun, tempat orang bisa duduk, ngobrol, dan menikmati karya seni, menggabungkan elemen arsitektur, interior, produk, landscape, dan seni dalam satu ruang”.

Pendekatan keempat, ILLUSION, mengajak pengunjung melihat ruang dari perspektif yang berbeda.

Spatial Sonata, yang dipimpin oleh Eric Ekaputra dan Ilka Jovita, mengeksplorasi objek yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari: kabinet.

Alih-alih mempertahankannya sebagai sebuah volume yang utuh, elemen-elemen kabinet seperti panel, rak, permukaan, dan struktur dipisahkan lalu dirangkai kembali menjadi komposisi spasial baru.

Dari sebuah furnitur, kabinet kemudian berkembang menjadi bagian dari arsitektur ruang, membentuk dinding, partisi, display, hingga area duduk di dalam The Lounge by CASA.

Eric Ekaputra dan Ilka Jovita menuturkan, "Kami membawa warna biru untuk illusion di The Lounge by CASA, dengan ide controlled chaos, sebuah box yang awalnya rapi lalu explode dan mengubah behavior ruangnya. Ruang ini didesain multifungsi, bisa untuk meeting, berbincang, atau berinteraksi, dengan sistem yang lebih kontradiktif.”

Keempat pendekatan tersebut kemudian bertemu dalam satu ruang yang sama. Alih-alih menghadirkan satu interpretasi tentang warna dan desain, The Lounge by CASA memberikan ruang bagi berbagai karakter untuk berdiri berdampingan.

Ada yang tegas dan grafis, ada yang ekspresif dan fluid, ada yang berlapis dan kontemplatif, sementara lainnya bermain dengan persepsi dan ilusi. Pertemuan inilah yang menjadi inti dari CHROMA: melihat warna bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi sebagai
sesuatu yang dapat dirasakan dan dialami.

Melalui The Lounge by CASA di Art Jakarta 2026, CASA Indonesia kembali memperluas percakapan mengenai desain, bukan hanya sebagai sesuatu yang hadir dalam sebuah ruang, tetapi sebagai pengalaman yang dapat dirasakan, ditafsirkan, dan terus berkembang melalui pertemuan berbagai ide.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.