AMBON (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) menebar sekitar 6 ton natrium klorida (NaCl) dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) keenam untuk mempersempit sebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengatasi dampak kekeringan di wilayah tersebut.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos di Ternate, Kamis mengatakan OMC telah dilakukan sejak 5 September 2026 setelah Pemprov Malut menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta dukungan operasi modifikasi cuaca menyusul meningkatnya titik kebakaran pada Agustus.

"Di bulan Agustus ada kurang lebih 64 titik kebakaran dengan total luas lahan sekitar 260 hektare. Kami telah bersurat pada BNPB untuk melakukan OMC dan di awal September sudah ada pesawatnya," kata dia.

Menurut dia, pelaksanaan OMC mulai menunjukkan dampak dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami kekeringan dan rawan Karhutla.

Sejak OMC dilaksanakan, hujan telah turun di lima kabupaten, yakni Halmahera Timur, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, dan Pulau Morotai.

"September per hari ini kebakaran hutan baru terjadi di lima titik dengan total luas lahan 12 hektare," ujarnya.

Ia mengatakan OMC akan diperpanjang hingga 12 September 2026 dengan harapan hujan dapat turun secara merata di wilayah Maluku Utara yang masih mengalami kekeringan.

"Hari ini sudah dilakukan OMC yang keenam dengan menebar kurang lebih enam ton NaCl. Kami berharap hujan turun merata sehingga bisa mencegah kebakaran hutan yang meluas," katanya.

Sherly menyebut Halmahera Utara menjadi wilayah yang paling sering mengalami kebakaran, sehingga mitigasi terus dilakukan untuk menekan potensi meluasnya Karhutla.

Sementara itu, sejumlah wilayah masih menjadi perhatian pemerintah karena belum mendapatkan curah hujan yang memadai, di antaranya Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, dan Halmahera Selatan.

Selain menangani Karhutla, Pemprov Malut juga berupaya mengatasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Pemerintah menerima keluhan petani terkait keterbatasan air untuk kebutuhan pengairan lahan.

Menurut Sherly, penanganan kekeringan dan Karhutla dilakukan secara bersamaan melalui berbagai langkah mitigasi agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas.

OMC di Maluku Utara menggunakan pesawat Cessna Caravan 208EX dengan nomor registrasi PK-SNL untuk membantu memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.

Gubernur juga mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan teknik pembakaran saat membuka lahan, terutama dalam kondisi cuaca kering yang meningkatkan risiko kebakaran.

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.