“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” ujar Dimaz dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Atas pertimbangan tersebut, Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana mengusulkan tarif masuk Ragunan menjadi Rp10.000. Namun, angka tersebut masih dalam tahap kajian.
Menurut Dimaz, tarif Rp10.000 masih tergolong terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah destinasi wisata lain di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Tarif sekarang paling mahal Rp4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” tuturnya.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, mengatakan, penyesuaian tarif diperlukan untuk mendukung pembenahan berbagai sarana dan prasarana di Ragunan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keamanan kandang satwa. Menurut Kenneth, masih terdapat sejumlah kandang yang perlu ditingkatkan standar keamanannya.
Hal tersebut menjadi perhatian setelah seorang anak terjatuh ke area kandang gajah pada Mei 2026. Peristiwa itu, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” ungkap Kenneth.
Pria yang akrab disapa Bang Kent itu juga menilai penyesuaian tarif dapat mengurangi ketergantungan Ragunan terhadap subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
Saat ini, APBD masih menanggung sekitar 70 persen biaya operasional Ragunan. Dengan adanya penyesuaian tarif, Ragunan diharapkan dapat secara bertahap menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang lebih mandiri secara finansial.
“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” tutur alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII tersebut.
Kenneth menambahkan, hasil inspeksi lapangan yang dilakukan pada Kamis sore juga menemukan sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, tambahan pendapatan dari penyesuaian tarif tiket harus diarahkan untuk kebutuhan vital, mulai dari sanitasi, kebersihan toilet, pemeliharaan kandang, hingga program pemuliaan satwa.
Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis juga dinilai perlu menjadi prioritas.
“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” beber politikus PDI Perjuangan itu.
Tambahan pemasukan juga dinilai dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah dokter hewan di Ragunan.
Kenneth menyebut saat ini terdapat lebih dari 2.200 satwa di Taman Margasatwa Ragunan, sementara jumlah dokter hewan hanya delapan orang.
“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” ujarnya.
Baca Juga: Niat Lunasi SPP Anak Terhalang Regulasi Email Sekolah, Pihak Ruben Onsu Colek Sarwendah