Jakarta, CNBC Indonesia - Kota New Orleans di Amerika Serikat (AS) mendadak berubah menjadi lautan setelah dihantam badai besar selama sepekan. Akibatnya, 100 ribu warga terjebak dan 1.800 warga tewas dalam kejadian yang terjadi pada 29 Agustus 2005, tepat hari ini 21 tahun lalu.
Empat hari sebelumnya, New Orleans diterjang Badai Katrina dengan kecepatan angin mencapai 193 Km/jam. Pemerintah sebenarnya sudah memberi peringatan terhadap bencana alam ini. Bahkan, puluhan ribu warga sudah pergi dari kota tersebut. Pemerintah juga sudah mengubah stadion sebagai tempat perlindungan darurat.
Hanya saja, kekuatan alam akhirnya mengalahkan infrastruktur buatan manusia. Pada 29 Agustus, Badai Katrina mencapai puncaknya dan berhasil menjebol tanggul di New Orleans yang selama ini menahan pergerakan air.
Akibatnya, air tersebut berubah menjadi 'tsunami' kecil dan membanjiri wilayah yang lebih rendah di sekitar New Orleans. Bahkan, derasnya air juga berhasil menghancurkan tanggul-tanggul penahan lain. Situs History mencatat sekitar 80% wilayah New Orleans terendam bak lautan. Ratusan ribu orang yang masih bertahan, termasuk yang berada di tempat perlindungan, langsung terdampak.
Masalah semakin besar ketika air tak bisa keluar dari kota New Orleans yang berada di bawah permukaan laut. Terlebih, pada saat bersamaan, air lautan juga sedang meninggi akibat badai. Alih-alih bisa keluar, air malah makin meninggi. National Geographic mencatat ketinggian air bahkan sampai melebihi atap bangunan, sekitar 5-6 meter, dan tidak berubah selama beberapa hari.
Dampaknya, penyelamatan pun sulit dilakukan. Banyak warga terjebak di rumah, loteng, dan atap bangunan selama beberapa hari. Mereka hidup tanpa makanan, minuman dan obat-obatan. Upaya evakuasi pun sangat sulit, sekalipun pemerintah AS sudah menetapkan sebagai bencana nasional.
Barulah, ketika air sudah mulai surut, pemerintah mencatat efek Badai Katrina ternyata menewaskan 1.800 orang. Hampir sepertiga kematian tercatat akibat tenggelam. Sementara sebagian lain berkaitan dengan penyakit kronik yang diperburuk oleh bencana.
Kerugian ekonomi juga mencapai sekitar US$108 miliar atau Rp1,9 Triliun pada masa sekarang. Ini menjadikan Badai Katrina dengan kerusakan paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat. Sekitar 400.000 orang juga terusir dari tempat tinggal mereka secara permanen, sehingga mengubah wajah demografi New Orleans untuk bertahun-tahun setelah bencana.
(mfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]