Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai menunjukkan tanda-tanda kelimpungan menghadapi Iran.
Media-media AS baru-baru ini melaporkan stok amunisi Washington sudah menipis buntut perang melawan Teheran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Washington Post, masalah amunisi ini tampaknya menjadi salah satu alasan Trump batal melancarkan serangan terhadap Iran yang ia sebut sebagai 'serangan terbesar sejak Perang Dunia II'. Serangan itu mestinya dilakukan akhir pekan lalu.
Washington Post menemukan bahwa pada bulan pertama AS berperang dengan Iran, lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) telah ditembakkan. Setidaknya 1.300 rudal balistik taktis juga sudah dikerahkan.
Menurut laporan Reuters pada Selasa (4/8), Angkatan Darat AS telah menggunakan 'hampir seluruh' persediaan rudal jarak jauh untuk menghadapi Iran.
CNN pada Rabu (5/8) juga mewartakan hampir 80 persen rudal pencegat THAAD dihabiskan dalam konflik Timur Tengah ini.
Pilihan Redaksi
- Trump Teken Aturan Batasi Kewarganegaraan Berdasarkan Tempat Kelahiran
- Trump Ngamuk soal Bocor Stok Amunisi AS, Akui Ada Pasokan yang Menipis
- Iran Sindir Gaya Diplomasi Trump Bak 'Aktor Teater'
Laporan kurangnya stok senjata ini telah menjadi isu hangat di kalangan publik. Pasalnya, masalah ini diduga menjadi alasan Trump terus menggertak sambal Iran.
Trump berulang kali mengancam akan melancarkan serangan skala besar atau mematikan terhadap Iran. Faktanya, serangan semacam itu tidak pernah dilakukan, Ketika dilakukan pun, skalanya terbatas.
Dalam pernyataan di Truth Social pada Kamis (6/8), Trump bersuara soal ini. Ia membantah bahwa AS kekurangan senjata.
"AS memiliki sejumlah besar amunisi, terutama jenis-jenis tertentu. Selain itu, sejumlah besar amunisi sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik dan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah negara kita," tulisnya.
Walau begitu, kalimat berikutnya justru menunjukkan bahwa ia mengakui masalah amunisi ini benar adanya. Trump mengancam akan menghukum keras 'para pembocor' informasi tersebut.
"Para 'pembocor' pernyataan pengkhianatan ini sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diupayakan!" tulis Trump.
(blq/asr)