Bagikan:

SUKABUMI – Tim Ekspedisi Cicatih Elpala menuntaskan pengarungan Sungai Cicatih sejauh sekitar 20 kilometer hingga Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jumat (10/7/2026). Perjalanan selama delapan jam itu sekaligus merekam penurunan debit sungai yang diperkirakan mencapai satu meter akibat musim kemarau.

Ekspedisi berlangsung sejak 4 Juli dengan jalur dari hulu Sungai Cimelati, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, hingga aliran Cicatih. Kegiatan ini digagas Rumah Elpala bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta untuk memproduksi film dokumenter bertema petualangan, pendidikan karakter, dan konservasi.

Sebelum masuk sungai, tim menempuh jalur pendakian hingga Pos 5, melintasi hutan primer, mendirikan kemah, serta melakukan rappelling di air terjun. Pengarungan kemudian dilakukan bersama tim Wanadri.

Saat menyusuri Cicatih, peserta melihat permukaan air lebih rendah dibanding kondisi normal. Warga setempat, Rio, menyebut kemarau menjadi penyebab utama.

“Kalau dibandingkan biasanya, permukaan air turun sekitar satu meter akibat kemarau,” kata Rio.

BACA JUGA:


Temuan itu menjadi salah satu catatan penting ekspedisi. Penurunan debit memperlihatkan eratnya hubungan antara kondisi hutan dan ketersediaan air di sungai.

Pendiri Elpala, Dar Edi Yoga, mengatakan ekspedisi tersebut dirancang bukan hanya untuk menguji kemampuan fisik peserta. Kegiatan alam, menurut Dar Edi, juga melatih disiplin, kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

“Di alam, generasi muda belajar tentang disiplin, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.

Film dokumenter yang diproduksi selama perjalanan akan merekam keanekaragaman hayati, kondisi sungai, serta dinamika peserta selama melintasi medan hutan dan air.

Sutradara dokumenter sekaligus pendiri Elpala, Eka Bama Putra, mengatakan film itu ingin menampilkan hubungan manusia dengan alam, bukan sekadar ketegangan saat menghadapi medan.

“Setiap perjalanan memiliki cerita dan setiap tantangan memberikan pelajaran,” katanya.

Ia menegaskan keselamatan tetap menjadi syarat utama dalam setiap ekspedisi. Persiapan, kemampuan teknis, dan penguasaan medan harus berjalan seimbang agar kegiatan tidak membahayakan peserta maupun lingkungan.

Ekspedisi berakhir di Pelabuhan Ratu pada Jumat sore. Perjalanan ini didukung Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kementerian Kehutanan, Wanadri, Boogie, dan Pickup Mini Bus Community.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+