Sulawesi Tengah dorong pengembangan riset untuk pertanian

Selasa, 18 Agustus 2026 19:07 WIB

Image Print

Gubernur Sulteng Anwar Hafid menghadiri panen raya Budidaya Padi Organik Alkhairaat dan Sarasehan Petani untuk Negeri di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Selasa (18/8/2026). (ANTARA/HO-Humas Pemprov Sulteng)

Palu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mendorong pengembangan riset untuk sektor pertanian yang lebih modern.

"Saya ke Sichuan melihat bagaimana pertanian modern benar-benar dikembangkan. Mereka sudah mampu mempercepat masa panen dan meningkatkan frekuensi tanam. Ini menunjukkan bahwa pertanian bisa dikembangkan dengan pendekatan teknologi dan riset," kata Gubernur Sulteng Anwar Hafid di Sigi, Selasa.

Penegasan itu disampaikan Gubernur saat menghadiri Panen Raya Budi Daya Padi Organik Alkhairaat dan Sarasehan Petani untuk Negeri di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.

Ia kemudian membagikan pengalamannya saat melihat langsung perkembangan pertanian modern di Provinsi Sichuan, Tiongkok.

Menurutnya, kemajuan pertanian di wilayah tersebut didukung oleh riset, teknologi, sistem pengairan, kepastian pasar, manajemen keuangan, digitalisasi, hingga hilirisasi.

Pertama, riset harus menjadi dasar dalam pengembangan pertanian, mulai dari kondisi tanah hingga pemilihan bibit. Kedua, pengelolaan irigasi dan sumber air harus diperkuat untuk menjamin keberlanjutan produksi. Ketiga, petani harus memiliki kepastian pasar, sehingga hasil produksi tidak berhenti hanya pada panen.

Selanjutnya, petani juga perlu dibekali manajemen keuangan, agar mampu menghitung keuntungan dan nilai ekonomi dari setiap kegiatan usaha tani. Penguatan digitalisasi pertanian serta hilirisasi juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

"Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh. Produksi harus menghasilkan pendapatan yang lebih baik bagi petani," jelasnya.

Menurut Gubernur, Sulteng tidak harus langsung meniru seluruh sistem pertanian modern yang telah diterapkan di negara lain. Namun, prinsip-prinsip yang relevan dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi daerah.

"Kita memang masih jauh, tetapi setidaknya kita bisa mulai. Yang paling penting adalah bibit dan hilirisasi. Kalau petani sudah mandiri menghasilkan bibit dan kita bantu dengan sistem yang baik, saya yakin hasilnya bisa lebih baik," jelasnya.

Gubernur juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan para ahli pertanian maupun ekonomi untuk menemukan pola yang tepat bagi pengembangan pertanian Sulawesi Tengah.

Pewarta : Fauzi
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026