Jakarta, CNN Indonesia --
Kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dipastikan aman untuk jangka panjang.
Pemerintah mencatat stok beras nasional mencapai 5,2 juta ton, sementara stok di NTT sendiri tersedia sekitar 39 ribu ton, jauh melampaui kebutuhan sekitar 34.600 pengungsi yang diperkirakan membutuhkan 300 ton beras per bulan.
Dengan hitungan tersebut, ketersediaan pangan di NTT diproyeksikan mampu bertahan hingga satu tahun ke depan, memberi ruang yang cukup bagi proses pemulihan pascabencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami hitung 34 ribu pengungsi, kebutuhan berasnya sekitar 300 ton per bulan. Stok kita di sini 39 ribu ton. Jadi tidak ada masalah. Enam bulan pun berasnya aman, sampai satu tahun aman," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat meninjau langsung penanganan bencana di NTT, Rabu (19/8).
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, pemerintah turut menyiapkan 200 ton beras khusus bagi Kabupaten Manggarai.
Bantuan ini menjadi bagian dari dukungan pemerintah bagi empat kabupaten terdampak gempa di NTT, dengan total bantuan beras mencapai 5.386 ton, yangterdiri atas bantuan bencana dan bantuan pangan reguler senilai sekitar Rp75,4 miliar.
Respons cepat ini terlihat nyata di lapangan. Ketika pemerintah daerah menyampaikan kebutuhan tambahan beras, permintaan yang semula hanya 20 ton langsung ditingkatkan menjadi 200 ton, tanpa menunggu proses administrasi berlarut-larut.
"Kami turun ke titik bencana, tadi kami melihat langsung. Bahkan ada yang minta 20 ton, kami berikan 200 ton. Kami disposisi, Wakil Bupati dan Kapolres tulis tangan, kami juga tulis tangan, karena butuh bantuan cepat. Kalau diproses ke Jakarta bisa tiga hari, bisa satu minggu," kata Amran.
Sebanyak 35 truk bantuan disiapkan untuk menjangkau wilayah-wilayah terdampak, dengan 10 truk di antaranya diarahkan langsung ke lokasi yang ditinjau.
Selain beras, pemerintah turut menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa minyak goreng, gula, dan mie instan.
Dukungan pemerintah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan selama masa darurat. Kementerian Pertanian turut membantu masyarakat kembali berproduksi melalui perbaikan sawah dan jaringan irigasi tersier yang rusak, penyediaan benih gratis, serta bantuan alat dan mesin pertanian.
Penggantian tanaman perkebunan yang rusak, termasuk kopi, kakao, dan kelapa, juga disiapkan, agar masyarakat dapat segera kembali memperoleh penghasilan.
Melalui stok yang memadai, distribusi yang cepat, serta dukungan pemulihan jangka panjang, penanganan pangan pascabencana di NTT diupayakan dapat menjangkau seluruh masyarakat terdampak.
(rea/rir)