Jakarta -

GPS adalah salah satu teknologi yang paling banyak digunakan di Bumi. Setiap membuka ponsel untuk mencari petunjuk arah, membagikan lokasi ke teman, melacak rute lari atau memesan makanan, besar kemungkinan kita memakainya.

Namun, banyak orang tidak menyadari bagaimana sistem ini didanai. Faktanya, para pembayar pajak Amerika Serikat menghabiskan hingga USD 2 miliar (Rp 35 triliun) setiap tahunnya untuk memelihara jaringan satelit yang menyediakan layanan navigasi gratis bagi sebagian besar wilayah dunia ini.

GPS pada dasarnya adalah armada yang terdiri dari setidaknya 24 satelit Angkatan Luar Angkasa AS (US Space Force). Mengorbit sekitar 20.000 km di atas Bumi, tiap satelit terus memancarkan dua informasi yang sama yaitu di mana posisi satelit tersebut dan waktu tepat saat sinyal itu dikirimkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ponsel atau sistem navigasi menangkap sinyal-sinyal ini. Dengan mengukur seberapa jauh jarak beberapa satelit secara bersamaan, perangkat menemukan satu-satunya titik di Bumi yang cocok dengan semua jarak tersebut, proses yang disebut trilaterasi. Saat ini, ada lebih dari 6 miliar perangkat ber-GPS yang digunakan di seluruh dunia.

GPS awalnya dikembangkan militer AS di Perang Dingin untuk memberi tahu posisi pasukan, pesawat, dan kapal perang di mana pun di Bumi. Selain itu, untuk mengenai target jarak jauh secara akurat. GPS memberi militer AS kemampuan yang belum pernah ada sebelumnya. Namun bukankah musuh bisa ikut menyadap sinyal-sinyal tersebut?

Ya, sinyal GPS dipancarkan terbuka, namun AS memancarkan dua versi. Sinyal presisi dienkripsi, hanya pasukan AS dan sekutu dapat membuka akurasi penuh. Pengguna lain mendapatkan versi kedua berupa sinyal terbuka yang akurasinya sengaja diturunkan, membuat penentuan posisi untuk sipil meleset sekitar 100 meter.

Semua itu berubah Mei 2000, ketika Presiden Bill Clinton memerintahkan fitur selective availability dimatikan, meningkatkan akurasi setiap perangkat sipil hingga sepuluh kali lipat. Langkah ini dipermanenkan.

Meski begitu, militer AS tidak kehilangan keunggulannya. Mereka kini dapat memblokir akses GPS di zona konflik tertentu sementara pengguna di wilayah lain tetap dapat menggunakannya.

Apakah AS akan terus mendanai GPS?

Pemerintah AS terus mendanai GPS sebagai elemen vital militer, keamanan nasional, dan sistem penerbangan dan tampaknya akan tetap dipertahankan. GPS diperkirakan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi AS lebih dari USD 1,4 triliun sejak 1983. Namun, hal paling berharga dari GPS sebenarnya bukan lokasi melainkan waktu.

Setiap satelit membawa jam atom, Sinyal penanda waktu sangat presisi itu jadi tulang punggung bagi sistem seperti menyinkronkan jaringan seluler, stempel waktu pada miliaran transaksi di pasar keuangan, dan menjaga keseimbangan jaringan listrik.

Hilangnya GPS akan menjadi bencana besar. Riset RTI (International Research Institute) menunjukkan bahwa hilangnya sinyal GPS akan merugikan AS USD 1 miliar per hari. Patricia Crouse, profesor ilmu politik di University of New Haven, mengatakan kerelaan AS untuk terus membayar GPS didasari oleh pertimbangan praktis.

"Meskipun Musk memiliki Starlink yang secara teori bisa menggantikan GPS, Anda tidak bisa memaksa orang menggunakan satelit swasta dengan biaya mereka sendiri," sebutnya.

Apakah ada teknologi alternatif selain GPS?

Eropa memiliki sistem Galileo. Jawaban China adalah BeiDou Navigation Satellite System, yang beroperasi penuh di seluruh dunia sejak tahun 2020. Sistem ini sangat kuat di Asia.

BeiDou juga memiliki fitur di mana pengguna dapat mengirim pesan teks pendek melalui satelit. Artinya, seseorang yang terdampar di gurun terpencil tetap dapat berkomunikasi meskipun tidak ada sinyal seluler.

Namun walau BeiDou berkinerja sangat baik di Asia, akurasinya cenderung menurun di wilayah lain. Sistem ini juga butuh hardware yang lebih khusus dibandingkan GPS untuk dapat mengakses beberapa kemampuan paling canggihnya.

Sistem Rusia disebut GLONASS, awalnya dikembangkan selama era Uni Soviet. Posisi satelitnya memberi mereka cakupan sangat baik di daerah lintang tinggi, menjadikan sistem ini efektif di wilayah utara dan Arktik, di mana sinyal standar GPS sering melemah.

Saat ini, makin banyak negara dan perusahaan yang punya akses ke GPS mulai mencari alternatif di luar penggunaan sistem tunggal. "Berbagai produk kini ditingkatkan kemampuannya agar dapat menggunakan sistem Eropa dan Rusia juga, jika sewaktu-waktu terjadi pemblokiran sinyal, yang kita tahu frekuensinya semakin meningkat," kata Andy Proctor, peneliti di Imperial College London.

(fyk/fyk)

TAGS

LIHAT LAINNYA