Liputan6.com, Washington, DC - Sisa roket SpaceX menghantam Bulan dan memberi para ilmuwan kesempatan langka untuk mempelajari dampak benturan sebuah benda dengan permukaan satelit alami Bumi tersebut.

Bagian atas roket Falcon 9 yang sudah tidak digunakan itu jatuh di dekat Kawah Einstein, di sisi Bulan yang menghadap Bumi, sebelum pukul 08.00 waktu Inggris atau tepatnya pukul 13.50 WIB pada Rabu (5/8/2026).

Roket tersebut menghantam permukaan Bulan dengan kecepatan sekitar 5.400 mil per jam atau tujuh kali kecepatan suara.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan kejadian itu tidak menimbulkan risiko bagi Bumi. NASA akan mengamati lokasi tumbukan untuk kepentingan penelitian.

Tidak ada wahana yang sedang mengorbit Bulan berada di posisi yang tepat untuk merekam tumbukan tersebut secara langsung. Karena itu, langkah pertama para ilmuwan adalah membandingkan foto permukaan Bulan sebelum dan sesudah kejadian untuk mencari kawah baru yang terbentuk akibat benturan.

Koresponden sains BBC, Pallab Ghosh, mengatakan wahana pengorbit Bulan milik Korea Selatan, Danuri, memiliki peluang paling besar untuk memperoleh gambar tak lama setelah tumbukan. Wahana itu sempat melintas di dekat lokasi kejadian beberapa saat sebelumnya.

Namun, tim Danuri mengatakan kepada media Korea Selatan bahwa rekaman baru akan dipublikasikan setelah selesai diperiksa oleh sejumlah lembaga penelitian. Belum ada kepastian kapan hasil analisis tersebut akan dirilis.

Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA diperkirakan berada di posisi yang memungkinkan untuk memotret lokasi tumbukan dalam beberapa hari ke depan.

Sementara itu, teleskop-teleskop di kawasan Amerika memiliki peluang terbaik untuk menangkap kilatan cahaya dan semburan debu ketika benturan terjadi karena wilayah tersebut masih gelap.

Menurut Pallab, gambar yang diperoleh biasanya perlu diolah selama beberapa jam, bahkan beberapa hari, sebelum dapat dipublikasikan. Para ilmuwan harus terlebih dahulu memeriksa data tersebut untuk memastikan keakuratannya.

Bagian Roket Apa yang Menghantam Bulan?

Benda yang menghantam Bulan merupakan bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX.

Falcon 9 adalah roket dua tingkat yang sebagian komponennya dapat digunakan kembali. Menurut SpaceX, roket tersebut dirancang dan diproduksi untuk mengangkut manusia serta muatan ke orbit Bumi dan wilayah yang lebih jauh secara aman dan andal.

Roket biasanya terdiri atas beberapa tingkat peluncuran. Tingkat pertama menghasilkan dorongan awal untuk membawa roket meninggalkan Bumi. Setelah itu, tingkat atas membantu mengantarkan wahana antariksa lebih jauh ke luar angkasa.

Bagian atas Falcon 9 yang menghantam Bulan tersebut diluncurkan pada Januari 2025 dengan membawa dua wahana robotik yang akan mendarat di Bulan.

Sebagian komponen Falcon 9 dirancang untuk kembali ke Bumi agar dapat digunakan dalam misi berikutnya. Namun, ada pula bagian yang dilepaskan dan dibiarkan berada di luar angkasa.

Bagian roket yang menghantam Bulan itu sebelumnya mengelilingi Bumi dalam orbit panjang yang membentang jauh ke luar angkasa.

Lintasan tersebut membawanya hingga ke wilayah yang dipengaruhi gravitasi Bulan. Tarikan gravitasi Bulan kemudian mengubah jalurnya dan akhirnya membuat bagian roket itu menghantam permukaan Bulan.

Risiko Sampah Antariksa

Astronom Universitas Cambridge, Dr Matt Bothwell, menyebut tumbukan tersebut sebagai eksperimen kecil yang menarik di Bulan.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang angkasa semakin dipenuhi sampah antariksa, yakni benda-benda buatan manusia yang mengorbit Bumi.

"Bukan tidak mungkin, dalam beberapa dekade mendatang, manusia akan semakin kesulitan mengirim wahana melampaui orbit Bumi karena ruang angkasa sudah terlalu padat," ungkap Bothwell kepada BBC.