Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Jakarta, VIVA – Panggilan mendadak ke Istana Negara pada Jumat, (2/10/2026), membawa Syahganda Nainggolan ke babak baru dalam perjalanan panjangnya. Pria yang selama ini dikenal sebagai aktivis dan penggiat kajian politik itu, akhirnya resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.

Baca Juga

Syahganda datang ke Istana setelah mendapat telepon dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Beberapa jam kemudian, kabar mengenai posisi barunya terjawab lewat pelantikan. Ia menggantikan Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom, sementara Fadli Trihartono dilantik sebagai Wakil Kepala Bakom. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 106/P Tahun 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perubahan posisi ini menarik karena Syahganda bukan nama baru dalam perjalanan politik Indonesia. Jauh sebelum masuk ke lingkar pemerintahan, ia telah melewati perjalanan panjang sebagai aktivis kampus, politikus, pengelola lembaga kajian, hingga akademisi.

Baca Juga

Berawal dari Aktivis ITB

Syahganda Nainggolan lahir di Medan pada 27 November 1965. Ia pernah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan aktif dalam gerakan mahasiswa pada era 1980-an.

Baca Juga

Aktivitasnya sebagai aktivis membuat perjalanan kuliahnya di ITB tidak berjalan mulus. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sarjananya setelah sempat keluar dari ITB, sebelum kembali ke kampus tersebut untuk menempuh program magister Studi Pembangunan yang diselesaikannya pada 2005.

Latar belakang sebagai aktivis tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Syahganda. Memasuki era Reformasi, ia mulai lebih aktif dalam politik praktis dan terlibat dalam sejumlah organisasi politik.

Masuk Politik di Era Reformasi

Syahganda pernah menjadi bagian dari Partai Daulat Rakyat. Setelah itu, ia ikut membentuk Partai Merdeka yang mengikuti Pemilu 1999.

Perjalanan politiknya kemudian berlanjut ke Partai Golkar. Ia sempat menjadi calon anggota legislatif, meski tidak berhasil mendapatkan kursi di parlemen. Syahganda juga pernah menduduki posisi komisaris di Pelindo II pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengalaman tersebut membuat kiprahnya tidak hanya berada di lingkungan aktivisme. Ia juga mulai bersentuhan dengan dunia pemerintahan, korporasi, serta kebijakan publik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mendirikan Sabang-Merauke Circle

Setelah melewati sejumlah aktivitas politik, Syahganda mengembangkan kiprahnya melalui dunia kajian. Pada 2010, ia mendirikan Sabang-Merauke Circle (SMC), lembaga kajian kebijakan publik.

Halaman Selanjutnya

SMC menjadi salah satu ruang bagi Syahganda untuk membahas berbagai persoalan nasional, mulai dari nasionalisme, kepemimpinan, daya saing hingga kesejahteraan masyarakat.