Produksi ke-237 Teater Koma ini dijadwalkan menyapa publik pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 mendatang, bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Lakon ini siap mengajak penonton menyelami dinamika sosial, relasi kuasa, dan refleksi mendalam tentang kemanusiaan.
Baca Juga: Teater Koma Pentaskan Kembali Opera Ikan Asin di HUT ke-40
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengungkapkan bahwa kedekatan emosional dalam ruang pertunjukan teater menjadi alasan mengapa seni ini tidak pernah kehilangan taringnya di tengah gempuran tren hiburan modern.
“Di tengah begitu banyak pilihan hiburan saat ini, seni pertunjukan teater tetap memiliki tempat yang istimewa karena menghadirkan pengalaman yang hanya dapat dirasakan ketika penonton dan pemain berbagi ruang dan waktu yang sama. Kedekatan itulah yang membuat teater terus relevan. Karena itu, Bakti Budaya Djarum Foundation terus mendukung karya-karya seperti Rumah Sakit Jiwa yang tidak hanya menawarkan kualitas artistik, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan berbagai persoalan yang masih dekat dengan kehidupan kita. Harapannya, semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal teater sebagai pengalaman budaya yang bermakna dan layak dinikmati,” ujar Billy Gamaliel.
Rumah Sakit Jiwa mengisahkan tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarita.
Baca Juga: Deretan Fakta Menarik Nano Riantiarno, Pendiri Teater Koma yang Tutup Usia di Umur 73 Tahun
Berbekal idealisme dan pendekatan yang humanis serta penuh persahabatan, Rogusta mencoba menyembuhkan para pasiennya.
Namun, metode barunya justru memicu benturan keras dengan sistem lama yang kaku dan mengancam posisi orang-orang di dalamnya.
Melalui kisah ini, penonton diajak merenungkan sebuah pertanyaan satir: apakah dunia luar kini sedang berubah menjadi sebuah 'rumah sakit jiwa?'
Lakon yang ditulis oleh mendiang N. Riantiarno ini kini disutradarai oleh sang putra, Rangga Riantiarno.
Demi menjaga kualitas pementasan, para pemain melakukan riset yang tidak main-main.
"Sejak pertama kali dipentaskan pada tahun 1991, Rumah Sakit Jiwa bukan semata-mata bercerita tentang sebuah institusi, tetapi tentang manusia dan berbagai persoalan yang mengitarinya. Itulah sebabnya kami merasa lakon ini masih relevan hari ini. Dari segi proses, hal yang sama dengan 35 tahun lalu adalah para pemain tidak hanya membaca naskah dan berlatih di ruang latihan, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater. Proses tersebut menjadi bagian penting agar para pemain memahami setiap karakter, sehingga apa yang disaksikan penonton lahir dari empati dan pemahaman yang utuh,” ungkap Rangga Riantiarno.
Daya tarik pementasan ini kian lengkap berkat keterlibatan desainer ternama Samuel Wattimena dan Rima Ananda pada lini busana. Kostum dalam lakon ini dirancang secara detail untuk mempertegas psikologi dan perkembangan karakter tokoh di panggung.
"Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita.
"Karena itu, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan," jelas Samuel Wattimena.
Sisi atmosferik pementasan juga didukung penuh oleh aransemen musik garapan Fero A. Stefanus, yang dikomposisikan khusus untuk mengawal dinamika emosi di setiap adegan.
Bagi pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno, pementasan ini membawa romansa tersendiri.
Kembali memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta setelah lebih dari tiga dekade memberikan pengalaman batin yang sangat berbeda.
"Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya. Di saat yang sama, sebagai produser saya juga melihat bagaimana seluruh tim bekerja dengan dedikasi yang luar biasa untuk menghadirkan kembali lakon ini. Semua proses itu membuat Rumah Sakit Jiwa menjadi pertunjukan yang istimewa bagi saya, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari perjalanan Teater Koma," tutur Ratna yang juga bertindak sebagai produser.
Bagi Anda yang tidak ingin ketinggalan menyaksikan kolaborasi puluhan pemain lintas generasi ini, berikut adalah jadwal pementasan Rumah Sakit Jiwa di Graha Bhakti Budaya, TIM:
Kamis - Jumat (30-31 Juli 2026): Pukul 19.30 WIB
Sabtu (1 Agustus 2026): Pukul 13.30 WIB & 19.30 WIB (Dua kali pertunjukan)
Minggu (2 Agustus 2026): Pukul 13.30 WIB
Tiket resmi pementasan sudah dapat diakses dan dibeli melalui situs resmi Teater Koma serta platform penjualan tiket mitra resmi yang telah ditunjuk.