Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut serangan dilakukan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran sesuai arahan Presiden Amerika Serikat.
Sekitar enam setengah jam setelah operasi dimulai, CENTCOM mengumumkan bahwa gelombang serangan telah berakhir.
Militer AS mengklaim telah menghantam sejumlah fasilitas pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran. Operasi tersebut melibatkan jet tempur, pesawat nirawak (drone), kapal perang, dan berbagai aset militer lainnya.
Serangan Meluas hingga Iran Tengah
Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS tidak hanya terjadi di kawasan Selat Hormuz, tetapi juga menyasar sejumlah wilayah lain, termasuk Kota Yazd di Iran tengah, Ahvaz di barat daya, serta Provinsi Khuzestan di pesisir Teluk Persia.
Di Provinsi Hormozgan, yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, sejumlah jalur transportasi utama dilaporkan lumpuh setelah serangan menghantam jalan raya, sedikitnya dua jembatan, dan sebuah terowongan.
Sehari sebelumnya, media Iran juga melaporkan sedikitnya lima jembatan menjadi sasaran serangan. Di Kota Bandar Khamir, tujuh orang dilaporkan tewas setelah serangan menghantam jembatan serta stasiun kereta api. Bandara di Iranshahr, dekat perbatasan Pakistan, juga dilaporkan terkena serangan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan sedikitnya tiga warga sipil tewas saat melintasi jembatan yang menjadi sasaran serangan.
Hingga kini, CENTCOM belum merinci lokasi target yang diserang, sementara sejumlah klaim dari pihak Iran belum dapat diverifikasi secara independen.
Iran Ancam Luncurkan Operasi Militer Skala Penuh
Ketegangan semakin meningkat setelah penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa Teheran siap meluncurkan "operasi ofensif skala penuh" apabila serangan Amerika terus berlanjut selama dua hingga tiga hari ke depan.
Menurut Rezaei, Iran tidak lagi akan membatasi diri pada serangan balasan yang setara.
Ia juga memperingatkan bahwa tidak akan ada lagi batas politik yang dianggap aman jika konflik terus meningkat.
Rudal Iran Hantam Negara-Negara Teluk
Sementara itu, sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran.
Iran mengumumkan telah menyerang negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Selain itu, Teheran juga mengklaim menyerang sebuah kapal militer Amerika di wilayah utara Samudra Hindia.
Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan beberapa fasilitas dan kamp militer menjadi sasaran drone Iran. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah personel Angkatan Darat Kuwait mengalami luka-luka saat bertugas.
Pihak militer Kuwait memastikan seluruh korban telah mendapat perawatan medis dan kondisi mereka dilaporkan stabil.
Selain itu, kebakaran juga dilaporkan terjadi di fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air setelah serangan drone, meski waktu pasti kejadian belum dijelaskan.
Di sisi lain, kantor berita IRNA melaporkan Angkatan Laut Iran menembakkan rudal jelajah pantai-ke-laut ke arah kapal Amerika di utara Samudra Hindia. Iran mengklaim serangan itu memaksa kapal tersebut menjauh dari wilayah operasinya.
Kapal Dagang Nyaris Berhenti Melintasi Selat Hormuz
Situasi keamanan yang memburuk membuat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengalami penurunan drastis.
CENTCOM menyatakan selama tiga hari pertama blokade baru terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pasukan AS telah mengalihkan empat kapal dagang, melumpuhkan satu kapal, dan menaiki satu kapal lainnya untuk memastikan blokade berjalan efektif.
Data perusahaan pelacakan pelayaran Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada 16 Juli, angka terendah dalam tiga pekan terakhir.
Jumlah tersebut turun dari 15 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah sekitar 48 kapal yang melintas dua pekan lalu.
Sebelum konflik memanas, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Jalur laut strategis ini menjadi rute sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas dunia sehingga gangguan terhadap pelayaran berpotensi memicu gejolak pasar energi global.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi terbaru. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres melalui juru bicaranya menyoroti meningkatnya serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran maupun negara-negara lain di kawasan.
Sumber: Rfrl