Bagikan:

JAKARTA - Selat Hormuz menjadi alat tawar-menawar yang krusial sepanjang konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran. Selat ini praktis ditutup oleh Iran sejak pertempuran pecah pada akhir Februari 2026.

Baik Iran maupun Oman telah memberikan sinyal positif kesepakatan mengenai pelayaran di Selat Hormuz mungkin dapat dicapai, meskipun Teheran segera menegaskan kesepakatan tersebut tidak akan serta-merta membuka kembali jalur perairan itu.

Pada akhir pekan lalu, kepala keamanan nasional Teheran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengeluarkan daftar tuntutan yang harus dipenuhi AS sebelum Iran membuka kembali Selat Hormuz.

Daftar tersebut mencakup langkah-langkah seperti penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penarikan pasukan militer, dan pengakhiran perang secara permanen.

Jalur perairan sempit yang membentang di antara Iran dan Oman ini berfungsi sebagai rute utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara kaya minyak—seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait—ke seluruh dunia.

Iran menguasai sisi utara selat tersebut. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA)—yang menyebut jalur ini sebagai titik krusial lalu lintas minyak—sekitar 20 juta barel minyak, atau kira-kira seperlima dari produksi harian global, biasanya mengalir melalui selat ini setiap harinya.

EIA juga menyatakan hanya ada sedikit pilihan alternatif untuk mengalirkan minyak keluar dari selat tersebut jika jalur itu ditutup.

BACA JUGA:


Selat ini juga menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.

Para analis energi memperingatkan harga minyak dan gas alam kemungkinan akan tetap tinggi hingga selat tersebut dapat dilalui kembali, meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berupaya memperluas rute lain untuk menyalurkan minyak mentah mereka ke pasar.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+