Salinitas tinggi, Warga Kotim diimbau sementara tak konsumsi air perumdam

Jumat, 2 Oktober 2026 17:11 WIB

Image Print

Direktur Perumdam Tirta Mentaya Ismanadi. ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengimbau masyarakat untuk sementara tidak mengkonsumsi air produksi pihaknya, akibat tingginya salinitas atau kandungan garam air baku yang telah mencapai sekitar 700 ppm.

Kondisi ini akibat adanya intrusi air laut yang semakin kuat seiring kemarau berkepanjangan, kata Direktur Perumdam Tirta Mentaya Ismanadi di Sampit, Jumat.

"Untuk wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sudah 700-an. Itu sudah tidak bisa dikonsumsi," beber dia.

Ismanadi menjelaskan, berkurangnya curah hujan menyebabkan volume air tawar menurun sehingga air laut lebih mudah masuk ke sumber air baku. Kondisi pasang surut juga turut mempengaruhi perubahan kadar garam pada sumber air yang dimanfaatkan Perumdam.

Dampak salinitas tinggi saat ini terutama dirasakan pada jaringan produksi yang melayani wilayah Pulau Lepeh, Pelangsian hingga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

"Untuk wilayah produksi mulai dari Pulau Lepeh, Pelangsian sampai Ketapang, itu tidak kami sarankan untuk dikonsumsi. Kecuali wilayah Baamang karena mengambil dari Tanah Mas," ujarnya.

Imbauan untuk tidak menggunakan air perumdam untuk keperluan konsumsi pun disampaikan dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan kualitas air oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Selanjutnya, Dinas Kesehatan akan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai wilayah dan penggunaan air yang tidak dianjurkan untuk konsumsi.

Meski kadar garam meningkat, Perumdam Tirta Mentaya belum menghentikan produksi dan distribusi air. Langkah tersebut dilakukan karena masyarakat tetap membutuhkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

"Kalau kita stop produksi, kita makin bermasalah. Ada kemungkinan bisa sampai keos karena masyarakat butuh air juga. Jadi, sementara tetap kita jalankan. Kami hanya menyampaikan agar tidak mengonsumsi," jelasnya.

Ia melanjutkan, air dengan salinitas tinggi masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi, mencuci dan kakus (MCK). Namun, masyarakat di wilayah terdampak diminta tidak menggunakan air tersebut sebagai air minum maupun untuk kebutuhan konsumsi lainnya.

Selain berdampak terhadap kualitas air, tingginya kadar garam dalam jangka panjang juga berpotensi mempengaruhi kondisi jaringan perpipaan.

"Sebagian besar jaringan perpipaan Perumdam masih menggunakan material berbahan besi," kata Ismanadi.

Sementara itu, sumber air baku di Tanah Mas yang menjadi pemasok untuk wilayah Baamang masih relatif aman dari intrusi air laut. Namun, kondisi tersebut dinilai masih dapat berubah apabila kemarau berlangsung lebih panjang tanpa disertai hujan.

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.