Sabtu, 22 Agustus 2026, 11:40 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat menyatakan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebar hingga ke Malaysia dipengaruhi oleh faktor arah angin. Pernyataan ini sontak memicu reaksi tajam dan sindiran dari warganet di media sosial.
Jumhur menjelaskan bahwa titik api karhutla yang memicu polusi udara lintas negara tersebut tidak berada di area konsesi perusahaan kelapa sawit maupun tambang.
Menurutnya, kebakaran terjadi di wilayah akses terbuka yang merupakan milik masyarakat. Terkait pergerakan asap yang menyeberang ke negara tetangga, ia menyebut hal itu karena kondisi cuaca.
"Kebetulan anginnya memang mengarah ke sana waktu itu, tapi suka bolak-balik gitu," ujar Jumhur saat memberikan penjelasan.
Alih-alih meredakan situasi, penjelasan Jumhur mengenai pergerakan angin ini justru kembali membuka perdebatan lama.
Banyak netizen yang mengaitkan alasan tersebut dengan dinamika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Warganet menilai kubu pemerintah kini terkena "tulah" lantaran sebelumnya sempat mencibir pernyataan Anies Baswedan mengenai faktor angin dalam isu polusi udara.
Berbagai sindiran pun membanjiri jagat maya. Akun media sosial @pua_bondhes berkomentar, "Malah menyalahkan angin. Akhirnya mereka merasakan sendiri kata-kata itu." Hal senada diungkapkan oleh akun @26_lana yang menulis, "Waktu itu debat capres Anies disalahkan angin karena membawa asap, sekarang dirasain kan wkwkw."
Sebagai pengingat, ungkapan "angin tidak punya KTP" pertama kali dilontarkan Anies Baswedan saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2022, dan kembali diulangnya dalam arena Debat Capres pada Desember 2023.
Saat itu, Anies menjelaskan bahwa buruknya kualitas udara di Jakarta sangat dipengaruhi oleh emisi polusi dari wilayah satelit di sekitarnya yang terbawa angin.
Secara ilmiah dan kontekstual, analogi tersebut dinilai tepat karena pencemaran udara memang bersifat lintas batas wilayah administratif (transboundary).
Seperti halnya angin yang mampu membawa polusi pembangkit listrik batu bara mengotori udara Jawa dan Sumatera, kini pergerakan angin pula yang terbukti membawa pekatnya asap karhutla dari Kalimantan hingga ke Malaysia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat