Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan valuasi saham murah? Apakah kondisi ini menjadi sinyal bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham? Atau justru investor perlu lebih berhati-hati? Berikut penjelasannya.

Ringkasan

Menurut PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, valuasi pasar saham Indonesia memang berada pada level terendah dalam sekitar 10 tahun terakhir. Kondisi ini membuka peluang bagi investor, tetapi tidak berarti seluruh saham otomatis layak dibeli.

Beberapa poin penting yang perlu dipahami:

  • Harga banyak saham turun akibat tekanan sentimen global dan arus keluar dana asing.

  • Valuasi pasar menjadi lebih menarik dibandingkan rata-rata historis.

  • Saham dengan fundamental kuat berpotensi menjadi incaran investor ketika sentimen membaik.

  • Valuasi murah bukan jaminan harga akan langsung naik.

  • Investor tetap perlu memperhatikan prospek laba, kondisi ekonomi, dan kualitas bisnis perusahaan.

Dengan kata lain, valuasi murah merupakan titik awal untuk melakukan analisis, bukan alasan untuk membeli saham tanpa mempertimbangkan faktor lainnya.

Mengapa Mirae Menyebut Valuasi Saham Indonesia Sangat Murah?

Salah satu pernyataan yang paling menarik dari paparan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bukanlah soal prediksi ekonomi atau kebijakan suku bunga global, melainkan penilaiannya terhadap harga pasar saham Indonesia saat ini.

Menurut Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin, valuasi pasar domestik berada di level yang sangat menarik setelah mengalami tekanan cukup panjang.

"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade dan potensi unfreeze inklusi index MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," ujar Wilbert dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas, Selasa, 21 Juli 2026.

Pernyataan tersebut mengandung dua pesan penting.

Pertama, harga saham di Indonesia memang mengalami tekanan sehingga valuasinya menjadi lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Kedua, murahnya valuasi belum tentu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang memburuk. Sebaliknya, penurunan harga juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, seperti keluarnya dana asing dan kebijakan moneter global yang masih ketat.

Inilah yang membedakan penurunan harga karena faktor fundamental dengan penurunan harga akibat sentimen pasar.

Mengapa Harga Saham Bisa Turun Meski Perusahaannya Masih Baik?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama di kalangan investor pemula.

Logikanya, jika sebuah perusahaan masih mencetak laba dan menjalankan bisnis dengan baik, mengapa harga sahamnya tetap bisa turun?

Jawabannya terletak pada cara kerja pasar modal.

Harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan, tetapi juga oleh ekspektasi investor terhadap masa depan. Ketika ketidakpastian global meningkat, banyak investor memilih mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.

Akibatnya, harga saham bisa turun secara luas meski tidak semua perusahaan mengalami penurunan kinerja.

Fenomena ini terlihat sepanjang periode meningkatnya suku bunga global dan keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia.

Dalam situasi seperti itu, investor cenderung menjual aset untuk mengurangi risiko atau memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Dampaknya, valuasi pasar ikut turun.

Namun, apabila fundamental perusahaan tetap terjaga, penurunan harga tersebut justru dapat menciptakan peluang investasi jangka panjang.

Di sinilah pentingnya membedakan antara harga yang murah dan valuasi yang murah.

Harga Murah Belum Tentu Valuasinya Murah

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan investor adalah menganggap saham dengan harga terendah sebagai saham yang paling murah.

Padahal, dalam investasi saham, murah atau mahal tidak ditentukan oleh nominal harga per lembar saham.

Sebuah saham yang diperdagangkan di harga Rp500 belum tentu lebih murah dibandingkan saham yang diperdagangkan di harga Rp5.000.

Yang menjadi ukuran adalah nilai perusahaan dibandingkan dengan harga yang dibayar investor.

Karena itu, analis lebih sering menggunakan istilah valuasi dibandingkan harga.

Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan ada dua toko yang dijual.

Toko pertama dijual seharga Rp1 miliar, tetapi menghasilkan laba Rp300 juta setiap tahun.

Sementara toko kedua dijual Rp700 juta, tetapi hanya menghasilkan laba Rp20 juta per tahun.

Meski harga toko kedua lebih murah, dari sisi valuasi justru toko pertama bisa lebih menarik karena menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan harga yang harus dibayar.

Prinsip yang sama berlaku di pasar saham.

Investor profesional tidak hanya melihat harga saham, tetapi juga membandingkannya dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, aset yang dimiliki, prospek pertumbuhan, hingga posisi kompetitifnya di industri.

Dengan demikian, ketika Mirae menyebut valuasi saham Indonesia berada di level terendah dalam satu dekade, maksudnya bukan seluruh saham sedang "obral", melainkan harga pasar secara keseluruhan dinilai lebih rendah dibandingkan potensi fundamental yang dimiliki banyak emiten.

Apakah Saham Murah Berarti Layak Dibeli?

Jawabannya adalah belum tentu.

Inilah bagian yang sering terlewat dalam banyak pembahasan mengenai valuasi.

Saham bisa terlihat murah karena dua alasan yang sangat berbeda.

Alasan pertama adalah pasar bereaksi berlebihan terhadap sentimen jangka pendek sehingga harga turun lebih dalam dibandingkan perubahan fundamental perusahaan.

Dalam kondisi seperti ini, saham dapat menjadi peluang investasi karena nilainya berpotensi kembali mencerminkan kinerja bisnis ketika sentimen membaik.

Alasan kedua adalah perusahaan memang sedang menghadapi masalah mendasar, seperti penurunan laba, beban utang yang tinggi, kehilangan pangsa pasar, atau prospek bisnis yang memburuk.

Pada situasi seperti itu, harga murah justru bisa menjadi value trap, yaitu kondisi ketika saham tampak murah tetapi sebenarnya masih memiliki risiko penurunan lebih lanjut.

Perbedaan inilah yang membuat investor tidak bisa hanya mengandalkan harga atau valuasi sebagai dasar mengambil keputusan investasi.

Mengapa Investor Institusi Tidak Hanya Melihat Valuasi?

Investor besar seperti dana pensiun, manajer investasi, maupun sovereign wealth fund biasanya menggunakan pendekatan yang jauh lebih komprehensif.

Selain memperhatikan valuasi, mereka juga mengevaluasi berbagai faktor lain, seperti:

  • prospek pertumbuhan laba perusahaan;

  • kualitas manajemen;

  • posisi kompetitif di industrinya;

  • stabilitas ekonomi makro;

  • kebijakan suku bunga global;

  • hingga potensi arus dana asing.

Karena itu, murahnya valuasi pasar Indonesia memang menjadi faktor positif, tetapi bukan satu-satunya alasan bagi investor institusi untuk kembali meningkatkan investasinya.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto yang menilai perhatian investor kini mulai bergeser dari sekadar momentum rebound menuju kualitas fundamental perusahaan.

"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ujar Rully.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa valuasi murah memang membuka peluang, tetapi arah pasar saham Indonesia ke depan tetap akan ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor. Mulai dari stabilitas ekonomi domestik, kebijakan moneter global, hingga kemampuan emiten mencatatkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dengan kata lain, valuasi yang menarik merupakan pintu masuk untuk melakukan analisis lebih dalam, bukan akhir dari proses pengambilan keputusan investasi.

Baca Juga: Modal Asing Rp0,44 Triliun Banjiri Pasar Saham RI Selama Sepekan

Baca Juga: INDY Bantah Isu Penjualan Saham Kideco Rp18 Triliun, Ini Faktanya

Mengapa Dana Asing Belum Tentu Langsung Kembali Meski Valuasi Menarik?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika pasar saham melemah adalah, jika valuasi saham Indonesia sudah murah, mengapa investor asing belum berbondong-bondong masuk?

Jawabannya karena keputusan investasi institusi global tidak hanya didasarkan pada valuasi.

Investor asing biasanya mempertimbangkan kombinasi berbagai faktor, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat, stabilitas nilai tukar rupiah, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, hingga kondisi geopolitik global. Dengan kata lain, valuasi yang murah memang dapat meningkatkan daya tarik pasar, tetapi belum cukup menjadi alasan untuk langsung meningkatkan eksposur investasi.

Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter global yang ketat. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahkan memperkirakan Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026.

Kondisi ini membuat arus modal global cenderung lebih berhati-hati karena aset berbasis dolar AS masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif.

Di sisi lain, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market menjadi sentimen positif yang mengurangi salah satu risiko terbesar yang sempat membayangi pasar.

Menurut Wilbert Arifin, keputusan tersebut membuat potensi tekanan akibat perubahan klasifikasi pasar berhasil dihindari.

Sebelumnya, pasar sempat mengantisipasi kemungkinan Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market, yang berpotensi memicu arus keluar dana bersih hingga sekitar Rp80 triliun dari investor yang mengikuti indeks MSCI.

Dengan tetap dipertahankannya status Emerging Market, risiko tersebut mereda. Namun, pekerjaan rumah berikutnya adalah mengembalikan kepercayaan investor agar dana asing kembali masuk secara bertahap.

Artinya, valuasi murah merupakan syarat yang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah arus modal asing.

Bagaimana Investor Menilai Valuasi Saham?

Istilah "valuasi" sering terdengar rumit, padahal konsep dasarnya cukup sederhana. Valuasi merupakan cara untuk membandingkan harga saham dengan nilai ekonomi yang dimiliki sebuah perusahaan.

Investor profesional umumnya tidak hanya melihat harga saham yang sedang naik atau turun, tetapi juga menggunakan sejumlah indikator untuk mengetahui apakah harga tersebut masih wajar.

Beberapa indikator yang paling sering digunakan antara lain:

1. Price to Earnings Ratio (PER)

PER membandingkan harga saham dengan laba bersih perusahaan.

Semakin rendah PER, semakin murah harga saham dibandingkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Namun, PER yang terlalu rendah juga bisa menjadi sinyal bahwa pasar melihat adanya risiko terhadap prospek perusahaan.

2. Price to Book Value (PBV)

PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan.

Indikator ini banyak digunakan untuk menilai sektor perbankan dan perusahaan yang memiliki aset besar. PBV yang rendah sering dianggap menunjukkan valuasi menarik, tetapi tetap harus dikombinasikan dengan analisis kualitas aset dan profitabilitas.

3. Prospek Pertumbuhan Laba

Valuasi yang rendah akan lebih menarik apabila perusahaan masih memiliki peluang meningkatkan pendapatan dan laba dalam beberapa tahun ke depan.

Sebaliknya, valuasi murah tanpa prospek pertumbuhan yang jelas bisa menjadi jebakan bagi investor.

Karena itu, analis pasar modal hampir selalu mengombinasikan berbagai indikator tersebut sebelum memberikan rekomendasi investasi.

Apa Arti Valuasi Murah bagi Investor Ritel?

Bagi investor ritel, informasi mengenai valuasi pasar sebaiknya tidak dimaknai sebagai ajakan untuk membeli seluruh saham yang sedang turun.

Yang lebih penting adalah memahami bahwa kondisi seperti ini dapat membuka peluang untuk melakukan seleksi terhadap perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat.

Dalam praktiknya, investor dapat mempertimbangkan beberapa langkah berikut:

  • fokus pada emiten dengan kinerja keuangan yang konsisten;

  • memperhatikan prospek pertumbuhan bisnis, bukan hanya harga saham;

  • melakukan diversifikasi agar risiko lebih terkendali;

  • berinvestasi secara bertahap (dollar cost averaging) dibandingkan membeli sekaligus dalam jumlah besar.

Pendekatan tersebut membantu investor mengurangi risiko ketika pasar masih bergerak fluktuatif akibat sentimen global.

Insight Editorial: Pasar Murah Bukan Berarti Pasar Aman

Banyak orang menganggap valuasi murah identik dengan kesempatan emas. Padahal, sejarah pasar modal menunjukkan bahwa harga saham bisa tetap berada di level rendah dalam waktu yang cukup lama apabila ketidakpastian ekonomi belum mereda.

Di sinilah letak perbedaan antara peluang dan kepastian.

Valuasi murah meningkatkan potensi imbal hasil jangka panjang, tetapi tidak menghilangkan risiko jangka pendek.

Justru pada fase seperti ini, kualitas analisis menjadi lebih penting daripada keberanian mengambil risiko.

Investor yang hanya mengejar saham karena "diskon" berpotensi terjebak pada perusahaan yang fundamentalnya memang memburuk. Sebaliknya, investor yang memahami laporan keuangan, prospek industri, dan kualitas manajemen memiliki peluang lebih besar menemukan saham yang benar-benar undervalued, bukan sekadar murah secara harga.

Dengan kata lain, valuasi rendah bukan akhir dari proses investasi, melainkan awal dari proses analisis yang lebih mendalam.

Simulasi: Dua Investor, Dua Cara Membaca Pasar

Bayangkan ada dua investor yang sama-sama melihat berita bahwa valuasi saham Indonesia berada di level terendah dalam satu dekade.

Investor pertama langsung membeli saham yang harganya turun paling dalam tanpa memeriksa kondisi bisnis perusahaan.

Investor kedua memilih pendekatan berbeda. Ia mempelajari laporan keuangan, memperhatikan prospek pertumbuhan laba, melihat posisi utang perusahaan, dan memastikan bahwa penurunan harga lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan penurunan fundamental.

Beberapa bulan kemudian, ketika sentimen global mulai membaik, saham perusahaan dengan fundamental kuat berpotensi pulih lebih cepat dibandingkan saham yang memang menghadapi masalah bisnis.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa informasi yang sama dapat menghasilkan keputusan investasi yang sangat berbeda, tergantung pada kualitas analisis yang dilakukan.

Implikasi bagi Pasar Saham Indonesia

Valuasi saham Indonesia yang berada di level terendah dalam satu dekade memberikan dua pesan sekaligus.

Di satu sisi, kondisi tersebut mencerminkan besarnya tekanan yang dialami pasar akibat arus keluar dana asing dan ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, valuasi yang lebih rendah juga meningkatkan potensi daya tarik pasar Indonesia bagi investor jangka panjang, terutama jika kondisi ekonomi domestik tetap stabil dan laba emiten terus bertumbuh.

Ke depan, arah pasar saham Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain:

  • kebijakan suku bunga The Fed;

  • stabilitas nilai tukar rupiah;

  • pertumbuhan ekonomi Indonesia;

  • kinerja keuangan emiten;

  • serta kembalinya minat investor asing.

Apabila faktor-faktor tersebut bergerak ke arah yang positif, valuasi murah yang saat ini terjadi dapat menjadi fondasi bagi pemulihan pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Penutup

Pernyataan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahwa valuasi saham Indonesia berada di level terendah dalam satu dekade menjadi pengingat bahwa penurunan pasar tidak selalu identik dengan hilangnya peluang investasi. Dalam banyak kasus, fase seperti ini justru menjadi momen ketika investor mulai menemukan perusahaan berkualitas dengan harga yang lebih menarik.

Namun, valuasi murah tidak boleh dipahami sebagai sinyal membeli seluruh saham tanpa analisis. Faktor fundamental perusahaan, prospek pertumbuhan laba, kondisi ekonomi domestik, hingga arah kebijakan moneter global tetap menjadi variabel penting yang menentukan keberhasilan investasi.

Bagi investor ritel, pendekatan yang lebih rasional adalah menjadikan valuasi sebagai pintu masuk untuk melakukan analisis yang lebih komprehensif, bukan sekadar mengikuti euforia bahwa pasar sedang "diskon". Dengan cara tersebut, peluang memperoleh hasil investasi yang lebih optimal dalam jangka panjang akan semakin besar.

Pantau terus perkembangan pasar modal, kebijakan ekonomi global, serta laporan keuangan emiten agar setiap keputusan investasi didasarkan pada informasi yang lengkap dan objektif.

Baca Juga: IHSG Ditaksir Konsolidasi, Investor Agar Selektif Pilih Menu Saham Hari Ini

Baca Juga: Mengenal Tokenized ETF, Akses Saham Global Lewat Blockchain


FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa valuasi saham Indonesia disebut murah?

Valuasi saham Indonesia disebut murah karena harga pasar banyak emiten berada di bawah rata-rata historis dibandingkan potensi fundamentalnya. Menurut PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kondisi ini membuat valuasi pasar berada di level terendah dalam satu dekade, meski tetap dipengaruhi sentimen global dan arus keluar dana asing.

Apa yang dimaksud dengan valuasi saham?

Valuasi saham adalah metode untuk menilai apakah harga suatu saham mencerminkan nilai perusahaan secara wajar. Penilaian ini umumnya menggunakan indikator seperti Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), serta prospek pertumbuhan laba perusahaan.

Apakah saham murah pasti menguntungkan?

Tidak. Saham yang terlihat murah bisa menjadi peluang investasi jika fundamental perusahaan tetap kuat. Namun, saham juga bisa murah karena menghadapi masalah bisnis yang serius. Oleh karena itu, investor perlu menganalisis laporan keuangan dan prospek perusahaan sebelum membeli.

Mengapa dana asing belum kembali meski valuasi menarik?

Investor asing mempertimbangkan lebih dari sekadar valuasi. Faktor seperti kebijakan suku bunga The Fed, stabilitas rupiah, prospek ekonomi Indonesia, dan kondisi pasar global turut memengaruhi keputusan mereka untuk kembali berinvestasi di Indonesia.

Apa hubungan valuasi saham dengan status Emerging Market?

Status Indonesia sebagai Emerging Market membantu menjaga daya tarik pasar saham di mata investor global. Jika Indonesia tetap berada dalam kategori tersebut, risiko keluarnya dana investasi pasif dalam jumlah besar dapat dikurangi, sehingga peluang masuknya kembali modal asing menjadi lebih terbuka.

Indikator apa yang paling sering digunakan untuk menilai valuasi saham?

Indikator yang paling umum adalah PER dan PBV. PER mengukur hubungan antara harga saham dan laba perusahaan, sedangkan PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Investor biasanya mengombinasikan kedua indikator tersebut dengan analisis prospek bisnis dan pertumbuhan laba.

Strategi apa yang sebaiknya dilakukan investor saat valuasi pasar sedang rendah?

Investor sebaiknya fokus pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, melakukan diversifikasi portofolio, dan berinvestasi secara bertahap. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko jika volatilitas pasar masih tinggi sekaligus memberi peluang memanfaatkan valuasi yang lebih menarik.