Nilai tukar rupiah ditutup menguat 92 poin ke level Rp 17.748 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 17.840 per dolar AS. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen global terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz.
“Pasar bersiap menghadapi potensi kebuntuan berkepanjangan di jalur perairan strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan yang ketat terhadap Iran,” katanya.
Trump belum merinci bentuk pembatasan tersebut. Namun, dia mendesak negara-negara sekutu AS untuk turut serta dan memperingatkan negara mana pun agar tidak melakukan bisnis dengan Iran.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga mengalami penurunan. Sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur perairan vital tersebut karena belum terdapat sinyal yang jelas mengenai pembukaan kembali jalur tersebut setelah sempat ditutup akibat konflik yang melibatkan Iran.
Dari Amerika Serikat, sentimen terhadap dolar juga dipengaruhi langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali atau buyback untuk surat berharga pemerintah berjangka panjang.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung likuiditas surat utang pemerintah AS sekaligus membantu mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun.
Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil Treasury AS tenor sepuluh tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps), sedangkan yield tenor 30 tahun turun hampir 9 bps.
Sementara itu, rupiah juga masih dibayangi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat The Fed Juli menunjukkan sejumlah pembuat kebijakan masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan yang berkelanjutan.
Pada pertemuan Juli, The Fed mempertahankan target suku bunga dana federal pada kisaran 3,5%-3,75%. Sejumlah pejabat yang berbeda pandangan menilai diperlukan tindakan lebih cepat untuk membawa inflasi kembali menuju target.
Pasar Respons Rencana Pangkas Kuota BBM Subsidi
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pasar merespons positif rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027. Pemerintah disebut berencana memangkas kuota BBM bersubsidi hingga 58,5%.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pengendalian subsidi energi dan berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.
Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel dalam asumsi ekonomi makro 2027. Asumsi tersebut berada di bawah harga minyak dunia yang saat ini berada di kisaran US$83 per barel.
“Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi,” kata Ibrahim.
Sementara itu, investor masih mengambil sikap hati-hati menjelang rilis data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026 yang dijadwalkan pekan ini.
Ibrahim mengatakan perhatian investor tertuju pada potensi pelebaran defisit transaksi berjalan setelah pada kuartal I defisit sempat melebar ke level terbesar sejak 2019.
Kinerja transaksi berjalan turut dipengaruhi oleh melemahnya perdagangan akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.