Jumat, 25 September 2026 - 09:31 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Baca Juga
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.898 pada Kamis, 24 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 95 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.803 pada perdagangan Rabu, 23 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 25 September 2026 hingga pukul 09.12 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.924 per dolar AS. Posisi itu melemah 8 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.916 per dolar AS.
Baca Juga
Ilustrasi hegemoni dolar AS
Photo :
- vstory
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, para ekonom memperingatkan bahwa langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate pada bulan September 2026, atau selama tiga bulan berturut-turut, mungkin hanya merupakan jeda sementara.
Baca Juga
"Hal itu mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat, 25 September 2026.
Selain itu, para pembuat kebijakan juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan. Terutama karena nilai tukar rupiah masih rawan terhadap kembali menguatnya dolar AS dan arus keluar modal asing.
Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten.
Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel, berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan.
Namun, perekonomian domestik Indonesia menunjukkan daya tahan mengesankan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 mampu bertengger di kisaran 4,9—5,7 persen. Motor penggerak utama berasal dari konsumsi rumah tangga yang tetap kokoh, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah serta menguatnya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.910-Rp 18.000," ujarnya.
Sebagai informasi, Iran dan AS masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka, namun diplomasi harus terus berjalan. Hal itu sebagaimana disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada hari Rabu kemarin, setelah presiden Iran menyatakan di hadapan Majelis Umum PBB bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan AS.
Halaman Selanjutnya
Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap usulan perdamaiannya, yang memprioritaskan pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, ujar pejabat tersebut.