AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (11/8/2026), setelah mata uang Garuda ditutup menguat 142 poin terhadap USD pada perdagangan Senin (10/8/2026).

Rupiah ditutup di level Rp17.755 per USD, menguat dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.897 per USD.

Penguatan rupiah terjadi ketika pasar global mulai mengurangi sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara sentimen domestik mendapat dorongan dari kepastian calon Gubernur Bank Indonesia (BI).

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.755, Pasar Tunggu Data Inflasi AS dan The Fed

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung fluktuatif. Namun, rupiah berpeluang bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.750 per USD.

"Perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.700-Rp17.750," ujarnya dalam riset hariannya, Selasa (11/8/2026).

Proyeksi tersebut menunjukkan ruang penguatan rupiah masih terbuka, tetapi belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa tren penguatan akan berlangsung panjang. Pasar masih menghadapi sejumlah faktor eksternal yang dapat dengan cepat mengubah arah mata uang.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya tarik dolar AS karena ekspektasi imbal hasil aset berdenominasi dolar ikut berubah.

Pasar juga menunggu data inflasi AS melalui Consumer Price Index (CPI) Juli yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (12/8/2026).

Berdasarkan perkiraan yang tercantum dalam naskah analisis pasar, inflasi tahunan diproyeksikan turun tipis dari 3,5% menjadi 3,4%, sedangkan inflasi inti diperkirakan turun dari 2,6% menjadi 2,5%.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi penting bagi rupiah karena pergerakan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga AS.

Jika inflasi AS kembali melandai, tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan yang lebih ketat dapat berkurang.

Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih hawkish.

Artinya, data CPI AS akan menjadi salah satu katalis utama bagi rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Di luar kebijakan moneter AS, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan rupiah.

Pasar tengah mencermati perkembangan terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.

Harapan pembukaan kembali jalur tersebut sempat mendorong optimisme pasar terhadap pasokan energi.

Namun, ketidakpastian masih tinggi. Iran menyatakan pembicaraan dengan Oman telah memasuki tahap akhir, tetapi Teheran masih mensyaratkan sejumlah hal sebelum jalur pelayaran tersebut kembali dibuka.

Iran juga menegaskan belum melakukan perundingan langsung dengan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan, "Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni."

Risiko semakin besar setelah terjadi serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengaku menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco.

Perusahaan energi Uni Emirat Arab, ADNOC, sebelumnya juga menyatakan terdapat 15 kapalnya yang diserang ketika melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai.

Kondisi tersebut membuat perkembangan harga minyak menjadi penting bagi pasar keuangan Indonesia.

Gangguan pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi global.

Bagi rupiah, kenaikan harga minyak juga dapat menjadi sentimen negatif apabila berlangsung lama karena dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi serta memperbesar tekanan eksternal terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

Sebaliknya, apabila jalur pelayaran kembali normal dan risiko gangguan pasokan berkurang, tekanan terhadap harga energi dapat mereda.

Kondisi itu berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pasar juga mendapat kepastian mengenai proses pengisian posisi Gubernur BI.

Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada DPR.

Destry saat ini merupakan Deputi Gubernur Senior BI dan sebelumnya ditunjuk sebagai pejabat sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI.

Reuters melaporkan pencalonan Destry ikut mendorong rupiah ke level terkuat sejak 18 Juni.

Pencalonan tersebut menjadi penting bagi pasar karena mengurangi salah satu sumber ketidakpastian di sektor moneter domestik.

Destry bukan figur baru bagi pasar keuangan. Ia telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan kembali terpilih untuk periode 2024-2029.

Dengan latar belakang tersebut, pasar dapat membaca pencalonannya sebagai indikasi keberlanjutan kebijakan stabilisasi moneter yang selama ini dijalankan BI.

Meski demikian, keputusan final tetap berada pada DPR melalui mekanisme persetujuan calon Gubernur BI.

Kepercayaan Konsumen Turun 3 Bulan Beruntun

Di tengah sentimen positif dari pasar valuta asing, perekonomian domestik masih menghadapi tantangan dari sisi konsumsi.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI tercatat terus mengalami penurunan. Pada Juni 2026, IKK turun dari 120,9 menjadi 117,8.

Penurunan tersebut terjadi ketika indeks kondisi ekonomi saat ini maupun indeks ekspektasi konsumen sama-sama melemah.

Dalam naskah terbaru, IKK Juli 2026 kembali disebut turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni.

Meski masih berada di atas level 100, tren penurunan tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam menilai kondisi ekonomi dan menentukan pengeluaran.

Bagi rupiah, perkembangan ini bukan merupakan katalis langsung seperti pergerakan dolar AS atau kebijakan suku bunga.

Namun, pelemahan keyakinan konsumen tetap penting karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama perekonomian Indonesia.

Jika tren tersebut berlangsung lebih lama, pasar perlu mencermati apakah pelemahan kepercayaan konsumen mulai tercermin dalam konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik.

Dengan memperhitungkan sejumlah faktor tersebut, ruang penguatan rupiah pada perdagangan Selasa masih terbuka.

Dari sisi eksternal, pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat mengurangi dukungan terhadap dolar AS. Dari sisi domestik, pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI memberikan tambahan kepastian bagi pasar.

Namun, penguatan rupiah belum sepenuhnya bebas dari risiko. Perkembangan konflik Iran-AS dan Israel, kondisi Selat Hormuz, harga minyak, serta data inflasi AS menjadi faktor yang dapat mengubah sentimen pasar dalam waktu singkat.

Karena itu, kisaran Rp17.700-Rp17.750 per USD yang diproyeksikan untuk perdagangan berikutnya lebih tepat dibaca sebagai ruang pergerakan jangka pendek, bukan sebagai tanda bahwa rupiah telah memasuki tren penguatan yang solid.

Pasar kini memiliki beberapa titik perhatian sekaligus. Data CPI AS akan menentukan kembali arah ekspektasi suku bunga The Fed, sementara perkembangan Selat Hormuz akan menentukan seberapa besar risiko pasokan energi global.

Di dalam negeri, pasar juga akan menunggu proses persetujuan Destry Damayanti di DPR serta perkembangan indikator ekonomi domestik, termasuk keyakinan konsumen.

Dengan kombinasi faktor tersebut, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat pada perdagangan berikutnya, tetapi volatilitas tetap perlu diantisipasi.

Selama risiko geopolitik belum mereda dan arah kebijakan The Fed masih bergantung pada data inflasi, penguatan rupiah kemungkinan berlangsung secara terbatas dan sensitif terhadap perubahan sentimen global.