Road to Laweyan Fest perkuat batik sebagai identitas bangsa
Minggu, 26 Juli 2026 08:35 WIB
Sabiq Abu Bakar Puspo Wardoyo pada puncak acara Road to Laweyan Fest di Kampung Batik Laweyan di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026). ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Pelaksanaan Road to Laweyan Fest 2026 di Solo, Jawa Tengah, Sabtu memperkuat batik sebagai salah satu identitas bangsa.
Ketua Panitia Road to Laweyan Fest 2026 Yanu Nugroho Wibisono menjelaskan malam puncak diwarnai dengan pengumuman pemenang Festival Umbul-Umbul bertema batik dan pemberian penghargaan khusus kepada para tokoh perempuan yang dinilai sebagai representasi Mbok Mase modern, yakni istilah historis bagi saudagar perempuan batik di Laweyan yang mandiri dan berpengaruh.
“Sebagai bentuk apresiasi tertinggi, kami mendedikasikan dan membuatkan motif batik khusus yang disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh penerima penghargaan,” katanya.
Penghargaan tersebut diberikan kepada tiga tokoh perempuan, yaitu kepada Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani yang pada kesempatan tersebut juga diberikan batik dengan motif khusus Sekar Candrakirana.
Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada pelaku seni Sruti Respati yang juga diberikan batik dengan Sekar Arumningrat, serta kepada politisi Sekar Tandjung dengan batik bermotif Candra Niskala.
“Kami sangat senang bisa berkolaborasi dan bersama-sama menghargai warisan batik Indonesia melalui penghargaan ini,” katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang telah terlibat pada perhelatan tersebut. Salah satunya dukungan datang dari Wong Solo Group.
Mewakili Wong Solo Group, Sabiq Abu Bakar Puspo Wardoyo menyampaikan apresiasi mendalam atas suksesnya acara puncak tersebut. Menurutnya, festival ini bukan sekadar ajang unjuk budaya, melainkan juga strategi nyata untuk mengenalkan batik ke ranah yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara.
“Kami sangat bangga melihat pelestarian batik terus dijaga dengan konsisten. Ini adalah cara yang luar biasa untuk mengenalkan batik secara luas di masyarakat, bahkan hingga ke mancanegara, mempertegas posisi Kampung Laweyan sebagai kota destinasi internasional,” katanya.
Sabiq menceritakan pengalamannya saat berkunjung langsung dan menyusuri toko-toko batik di kawasan bersejarah tersebut. Ia mengaku takjub dengan atmosfer Kampung Batik Laweyan yang tetap terjaga keasliannya di tengah modernisasi, meskipun kawasan ini sudah menjadi konsumsi wisata harian masyarakat Solo.
“Batik merupakan simbol kuat Bangsa Indonesia. Saya pribadi selalu bangga mengenakan batik sebagai representasi masyarakat Indonesia dan warisan budaya,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya transfer budaya kepada generasi muda. Dalam kesempatan ini, ia turut mengajak generasinya yang merupakan kalangan Gen Z untuk ikut melihat langsung proses dan ekosistem batik di Laweyan.
“Generasi sekarang harus kenal batik lebih dekat. Tidak hanya sekadar mengenakan pakaian jadi, tetapi sesekali harus berkunjung langsung ke Kampung Batik Laweyan agar tahu prosesnya. Ke depan, kami juga melihat adanya peluang besar untuk mengadakan event-event batik serupa di Kali Pepe Land untuk merangkul pelaku industri batik di Solo dan sekitarnya,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.