Jakarta (ANTARA) - Indonesia menegaskan strategi reformasi pro-pertumbuhan (pro-growth reforms) dalam Pertemuan Kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/FMCBG) di bawah Presidensi Amerika Serikat (AS).

Penegasan itu disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung yang mewakili Menteri Keuangan dalam memimpin delegasi Kementerian Keuangan dalam kegiatan tersebut.

“Reformasi pro-pertumbuhan perlu diarahkan untuk mengurangi hambatan terhadap kegiatan usaha dan investasi, memperkuat kerja sama internasional, serta mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru,” kata Juda, sebagaimana dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Rabu.

Juda menyoroti tiga area utama yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu reformasi struktural dan penyederhanaan regulasi, penguatan kerja sama internasional, serta penguatan inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Ia juga berbagi pengalaman Indonesia dalam melakukan penyederhanaan regulasi untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif serta memperkuat sektor keuangan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Selain itu, Indonesia juga terus mendorong transformasi struktural melalui hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi.

Wamenkeu menambahkan, di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Indonesia terus memperkuat tata kelola serta melakukan penataan dan perampingan kelembagaan untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan kinerja BUMN sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Pemanfaatan akal imitasi (AI) dan teknologi baru juga diyakini dapat menjadi akselerator pertumbuhan dan produktivitas, di mana pemanfaatannya perlu didukung oleh penguatan infrastruktur dasar, sumber daya manusia, serta ekosistem digital yang memadai.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pertumbuhan, G20 turut membahas peran sektor swasta dalam mendorong investasi, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan produktivitas.

G20 pun untuk pertama kalinya menghadirkan dialog langsung dengan pelaku usaha dari sektor kesehatan, manufaktur, dan jasa keuangan.

Dialog tersebut memberikan perspektif dunia usaha mengenai berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat investasi dan pertumbuhan, sekaligus memperkaya pembahasan mengenai tantangan dalam pemanfaatan AI dan teknologi baru.

Wamenkeu RI menilai keterlibatan sektor swasta penting untuk memastikan agenda reformasi dan pertumbuhan dapat diterjemahkan menjadi peningkatan investasi, produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Gubernur BI: Ruang pertumbuhan ekonomi makin luas jika ada stabilitas

Baca juga: Pemerintah dan DPR sepakati asumsi makro RAPBN 2027

Baca juga: Pejabat keuangan G20 bahas strategi pertumbuhan di tengah konflik Iran

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.