Jakarta (ANTARA) - Indonesia dinilai perlu melakukan transformasi strategis dari sekadar negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia menjadi pusat hilirisasi sawit global.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan transformasi Indonesia menjadi pusat hilirisasi sawit global akan memberikan nilai tambah, memperkuat daya saing, hingga meningkatkan kontribusi industri sawit nasional.

Menurut dia saat ini Indonesia telah mengembangkan banyak produk turunan kelapa sawit, tetapi, potensi yang dimiliki oleh komoditas kelapa sawit masih jauh lebih besar dibandingkan dengan capaian hilirisasi saat ini.

"Sejauh ini Indonesia sudah mendorong hilirisasi kelapa sawit. Hanya saja mungkin hilirisasi belum beragam. Oleh karena itu, perlu ada strategi agar Indonesia bisa menjadi pusat hilirisasi industri sawit global,” kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan Indonesia membutuhkan arah kebijakan untuk pengembangan hilirisasi sawit nasional guna membentuk kelahiran industri manufaktur yang mengolah kelapa sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Selain arah kebijakan, juga dibutuhkan berbagai instrumen pendukung baik berupa insentif maupun disinsentif fiskal dan nonfiskal guna mempercepat investasi di sektor hilir.

"Kita juga harus memperkuat sektor hulu sawit. Penguatan di sektor hulu ini penting karena tidak mungkin kita membangun industri hilir kalau tidak didukung oleh sektor hulu yang kuat," katanya.

Selama ini upaya pengembangan hilirisasi sawit nasional aktif dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui berbagai macam inisiatif seperti mendorong riset dan inovasi, memperkuat promosi dan kemitraan, hingga melakukan pengembangan sumber daya manusia di sektor hilirisasi sawit.

BPDP secara aktif dan konsisten mendukung percepatan hilirisasi kelapa sawit nasional menuju industri yang berdaya saing dan berkelanjutan karena mampu memberi manfaat nyata dan dampak positif bagi masyarakat.

Faisal menilai percepatan hilirisasi kelapa sawit akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga penguatan struktur industri nasional.

“Dampak positif hilirisasi sawit tentu banyak sekali mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan income masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan hilirisasi merupakan strategi untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas pasar industri sawit Indonesia.

Dikatakannya hilirisasi tak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor tetapi juga berperan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor.

"Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global," katanya.

Tungkot mencontohkan keberhasilan Program Mandatori Biodiesel yang mampu menekan impor solar berbasis fosil melalui pemanfaatan kelapa sawit dan masih banyak produk impor yang dapat disubstitusi melalui pengembangan industri hilir sawit.

Hilirisasi sawit di sektor energi, lanjutnya, berpotensi menekan impor avtur melalui pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur.

Selain itu dia menambahkan, hilirisasi sawit juga memungkinkan Indonesia menjadi salah satu negara produsen oleokimia terbesar di dunia.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat: RI perlu tranformasi dari produsen ke pusat hiliriasi sawit

Pewarta: Subagyo
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.