REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG -- Lembaga Seni, Budaya, dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong generasi muda, khususnya kalangan santri, agar berani berdialog dan menyampaikan gagasan kepada para ulama. Berbagai masukan dari para remaja tersebut akan menjadi bahan rekomendasi dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang digelar pada 24-26 Juli 2026.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan "Remaja Bertanya, Ulama Menjawab" di Pondok Pesantren Modern Daar el-Qolam, Kabupaten Tangerang, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari "Maestro Summit: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim se-Indonesia Ke-2" sekaligus rangkaian pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII.
Ketua LSBPI MUI, Habiburrahman El Shirazy mengatakan, forum tersebut sengaja dirancang untuk mempertemukan ulama dengan generasi muda dalam suasana dialog yang terbuka. Awalnya, pembahasan difokuskan pada seni dan budaya, namun para santri dipersilakan mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persoalan lain yang mereka hadapi.
"Ulama hadir bersama para remaja. Konsep utamanya adalah remaja bertanya tentang seni budaya, tetapi terbuka juga untuk bidang yang lain," ujar Habiburrahman dalam sambutannya.
Penulis novel "Ayat-Ayat Cinta" itu juga mengapresiasi Pondok Pesantren Daar el-Qolam yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Maestro Summit. Ia menilai budaya disiplin, termasuk memulai acara tepat waktu, merupakan tradisi baik yang perlu terus dijaga.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam, Ustadz Erick Yusuf menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII yang akan digelar di Hotel Bidakara Jakarta pada 24-26 Juli 2026. Menurut dia, seluruh ide, pertanyaan, dan masukan yang muncul dari para santri akan dirangkum untuk dibawa ke forum kongres.
"Hasil dari kegiatan-kegiatan pra-kongres akan dibawa ke KUII. Jadi jika adik-adik memberikan masukan, pemikiran, atau pertanyaan, adik-adik sudah berkontribusi memberikan masukan bagi Kongres Umat Islam Indonesia," ucapnya.
Erick mengatakan, salah satu tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini adalah derasnya arus informasi digital. Menurut dia, muncul fenomena ustadz atau ustadzah berbasis kecerdasan buatan (AI) hingga influencer media sosial yang memiliki banyak pengikut sehingga dianggap sebagai ulama, padahal belum tentu memiliki kompetensi keilmuan yang memadai.
Karena itu, ia berharap para santri mampu menjadi generasi penerus ulama yang memiliki otoritas keilmuan sehingga dapat memberikan penjelasan agama yang benar kepada masyarakat.
Ketua MUI Provinsi Banten, KH Badarisyams, juga mengapresiasi inisiatif LSBPI MUI yang memberikan ruang dialog kepada kalangan remaja. Menurut dia, anak muda merupakan penentu arah peradaban sehingga tidak boleh dipandang sebelah mata.
Ia menilai remaja justru harus diberi kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan kepada para ulama. Mengutip KH Wahid Hasyim, Badarisyams berpesan agar generasi muda tidak takut mencoba maupun bertanya.
"Kalau ingin lakukan, lakukanlah, jangan takut salah. Karena kalaupun salah akan menjadi penyempurna dalam kehidupan kita," katanya.