Jakarta -

Sebanyak 133 lele raksasa Mekong yang terperangkap di jaring nelayan diselamatkan dan dilepaskan kembali ke danau alami serta sistem sungai sejak Oktober 1999. Ini adalah upaya untuk melindungi salah satu spesies air tawar paling langka di Sungai Mekong tersebut.

Menurut Kementerian Informasi Kamboja, 133 penyelamatan yang tercatat hingga kuartal ketiga tahun 2026 ini didasarkan data penelitian dan laporan resmi mengenai ikan yang tertangkap secara tidak sengaja oleh alat nelayan komersial maupun lokal.

Dalam kasus terbaru di Provinsi Siem Reap, nelayan menemukan lele raksasa Mekong di dalam jaring. Dikutip detikINET dari Khmer Times, ikan tersebut berukuran 2,3 meter dan berat 130 kg. Petugas kemudian melepaskannya kembali ke Danau Tonle Sap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan melalui kerja sama antara nelayan setempat, para pejabat, dan proyek Wonders of the Mekong guna melestarikan spesies terancam punah ini.

Kementerian tersebut mencatat upaya penyelamatan telah membuahkan hasil yang stabil. Sepanjang tahun 2023 dan 2024, tim telah melepaskan 26 lele raksasa Mekong, diikuti oleh lima ekor lagi pada tahun 2025.

Lele raksasaLele raksasa dilepas lagi. Foto: Khmer Times

Salah satu spesimen yang diselamatkan tertangkap jaring oleh nelayan di Provinsi Kampong Cham. Petugas memasang tag identifikasi pada ikan tersebut sebelum mengembalikannya ke Sungai Mekong.

Dari 133 lele yang diselamatkan dari jaring sejak tahun 1999, lebih dari 83% berhasil bertahan hidup dan dikembalikan ke perairan alami. Program ini juga mendukung penelitian ilmiah. Pakar memasang alat pelacak akustik pada spesimen-spesimen terpilih untuk memetakan rute migrasi.

Lele raksasa Mekong adalah spesies air tawar besar yang habitat aslinya di sistem Tonle Sap dan Sungai Mekong, yang mampu mencapai panjang 3 meter dan berat hingga 300 kg. Spesies ini menghuni Tonle Sap, bagian hulu Sungai Mekong, serta lubuk-lubuk dalam di sepanjang sungai di Provinsi Kratie dan Stung Treng.

Kamboja melarang pemanenan, penjualan, dan pengangkutan lele raksasa Mekong sejak tahun 1956. Spesies ini diklasifikasikan sebagai Sangat Terancam Punah dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Ukuran menyusut

Sementara itu, sebuah studi menemukan bahwa ukuran ikan-ikan raksasa di Sungai Mekong menyusut pada tingkat yang mengkhawatirkan beberapa tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang berlebihan. Panjang raksasa-raksasa air tawar terbesar dan paling terancam punah ini, berkurang 40% dalam tujuh tahun.

Lele raksasa Mekong diteliti selama periode yang lebih panjang dan menunjukkan penurunan berat badan sebesar 55% dalam 25 tahun terakhir, merosot dari rata-rata 180 kg menjadi 80 kg.

Salah satu anggota tim studi, ahli biologi Ngor Peng Bun, pernah membantu menangkap lele raksasa tahun 2000 yang beratnya 270 kg, sebelum memasang tag dan melepaskannya. "Ukurannya sangat besar, tak terlupakan," katanya. Ikan itu bahkan hampir membalikkan perahunya. Spesies yang dalam bahasa Khmer dikenal sebagai ikan kerajaan ini, kini hanya bayang-bayang dari masa kejayaannya.

Ukuran adalah masalah kelangsungan hidup karena ikan berukuran besar mampu menghasilkan telur yang jauh lebih banyak secara eksponensial. Seekor lele seberat 300 kg dapat menghasilkan keturunan 10 hingga 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan ikan seberat 50 kg.

Banyak dari spesies terbesar ini juga berumur panjang dan lambat mencapai usia dewasa, yang berarti peningkatan angka kematian dapat merusak keseimbangan menuju kolapsnya populasi.

Dr. Zeb Hogan, profesor di University of Nevada, AS, yang juga bagian dari tim studi, mengatakan penyusutan cepat ikan-ikan raksasa Mekong ini sangat mengejutkan.

"Seiring menurunnya ukuran tubuh dan kapasitas reproduksi, ikan Mekong berisiko memasuki 'spiral kematian', di mana populasi tetap ada tapi tak lagi layak untuk bertahan dalam jangka panjang," ujar Hogan.

Selain penangkapan berlebihan, ikan-ikan raksasa Mekong juga berjuang menghadapi bendungan yang menghalangi migrasi, krisis iklim, serta perusakan hutan banjir musiman untuk lahan pertanian, yang padahal merupakan habitat penting mereka.

(fyk/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA