Rabu, 22 Juli 2026 - 14:08 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mewaspadai potensi lonjakan harga minyak dunia seiring memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kenaikan harga minyak dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk mengurangi kemampuan pemerintah untuk memberikan stimulus bagi perekonomian.

Baca Juga

Purbaya menjelaskan, pemerintah sebelumnya memperkirakan harga minyak dunia akan bergerak di kisaran US$70 per barel. Dengan asumsi tersebut, pemerintah memiliki ruang anggaran yang lebih longgar karena sebelumnya perhitungan APBN menggunakan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, situasi geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah membuat pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan harga minyak kembali meningkat.

Baca Juga

"Saya tadinya berharap harga minyak turun ke US$70 per barel. Sebelumnya anggaran saya hitung dengan harga US$100 per barel, jadi saya ada uang lebih yang bisa dipakai untuk mendorong perkembangan ekonomi. Sekarang mungkin uangnya agak berkurang, jadi saya harus hati-hati lagi," ujar Purbaya usai menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Rabu.

Kenaikan Harga Minyak Dinilai Tekan Ruang Fiskal

Baca Juga

Menurut Purbaya, perubahan harga minyak dunia memiliki pengaruh langsung terhadap ruang fiskal pemerintah. Semakin tinggi harga minyak, semakin besar pula tekanan terhadap APBN sehingga pemerintah perlu lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menyusun strategi agar ketahanan fiskal tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Meski mengakui adanya risiko dari gejolak geopolitik, Purbaya memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah agar APBN tetap mampu menghadapi tekanan eksternal.

Ia menilai kewaspadaan menjadi langkah penting agar pemerintah tetap memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan nasional apabila kondisi global semakin tidak menentu.

Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak, Purbaya tetap optimistis ekonomi Indonesia akan terus membaik meski konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurutnya, kekuatan utama perekonomian nasional berasal dari permintaan domestik yang menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Ia mengatakan sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional ditopang oleh konsumsi dan permintaan dalam negeri sehingga gejolak ekonomi global tidak secara langsung mengganggu fondasi ekonomi Indonesia.