Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim Indonesia menjadi salah satu negara paling tenang saat harga minyak melonjak imbas perang Iran dan AS.  Purbaya mengklaim, kondisi ekonomi Indonesia mampu terjaga berkat tepatnya kebijakan yang diambil pemerintah.  

“Dengan strategi yang pas walaupun harga minyak dunia sampai sempat US$ 100 per barel, kita kan tenang-tenang saja. Salah satu negara paling tenang di dunia, karena kebijakannya pas, karena arahan Presiden tepat,” kata Purbaya dalam acara ‘Sarasehan 100 Ekonom Indonesia’, di Jakarta, Kamis (3/9).

Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonomi itu awalnya ditanya mengenai pembengkakan belanja subsidi di kuartal pertama 2026. Ia juga ditanya mengenai strateginya agar penyaluran subsidi kedepannya lebih tepat sasaran. 

“Jadi gini, kalau kita lihat defisit yang saya sebutkan tadi kan sampai bulan Juli 0,9% defisitnya. Artinya apa? Itu menunjukkan kita sudah mengendalikan belanja dan lain-lain sehingga kesinambungan fiskalnya tetap terjaga,” kata Purbaya menjawab pertanyaan tersebut. 

Saat awal perang antara Iran dengan AS dan Israel meletus, ia diminta Presiden Prabowo Subianto untuk menghitung dampak ekonomi yang ditimbulkan. Ia lalu menghitung skenario bilamana harga minyak dunia menyentuh angka US$ 100 per barel. 

“Minggu berikutnya kita bilang harga akan dampaknya ke sini, sini, sini. (Prabowo bertanya) ‘Kalau diamkan bisa dikendalikan?’ Bisa. Saya akan kendalikan ini, ini, ini. ‘Berapa defisitnya?’ (tanya Prabowo). Di bawah 3 Pak, 2 poin sekian, 2,85 hitungan kita. Ya udah kerjakan,” kata Purbaya menuturkan. 

Bendahara negara pun mengklaim telah mengendalikan belanja-belanja negara yang dirasa tidak perlu, dan tetap mengizinkan belanja yang lebih produktif.

“Sementara daya beli masyarakat jaga dengan meng-absorb tadi kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi. Orang bilang boros, enggak boros. Pertama saya bisa menjaga daya beli masyarakat, kedua bisa mengendalikan inflasi,” kata Purbaya.