Jakarta -

Di tengah kesibukan sehari-hari, waktu tidur sering kali menjadi hal yang dikorbankan. Padahal, istirahat yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan mendukung fungsi organ agar tetap optimal.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine menemukan kaitan antar durasi fase tidur tertentu dan rendahnya risiko mengalami 83 jenis penyakit.

Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak hanya memengaruhi kondisi tubuh saat bangun, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dalam jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir Women’s Health, para peneliti menganalisis data pelacak tidur selama seminggu lebih dari 95.000 orang yang berpartisipasi dalam UK Biobank, sebuah basis data biomedis berskala besar.

Para peneliti kemudian melihat data kesehatan dari para peserta ini sekitar sembilan tahun kemudian.

Data pelacakan tidur mengamati berapa lama peserta menghabiskan waktu dalam berbagai tahap tidur, termasuk REM, yaitu tahap di mana Bunda bermimpi. Para peneliti menemukan bahwa orang yang lebih mendapatkan lebih banyak tidur REM memiliki risiko lebih rendah terkena 83 penyakit dan kondisi kesehatan yang berbeda.

Ada beragam kondisi yang dapat dipengaruhi oleh hal ini. Namun secara umum, orang yang mendapatkan lebih banyak tidur REM memiliki risiko lebih rendah terkena kondisi-kondisi berikut:

  • Gagal jantung (risiko 26 persen lebih rendah)
  • Demensia (risiko 46 persen lebih rendah)
  • Penyakit parkinson (risiko 80 persen lebih rendah)

Para peneliti juga menemukan bahwa lebih banyak tidur REM menurunkan risiko gangguan kekebalan tubuh, kondisi kulit, obesitas, diabetes tipe 2, gangguan kesehatan mental, kondisi muskuloskeletal, dan banyak lagi.

“Temuan ini menggarisbawahi bahwa menjaga pola tidur enam hingga delapan jam dikaitkan dengan tidur yang lebih baik dan risiko penyakit lebih rendah, menawarkan wawasan untuk pencegahan dan promosi kesehatan,” tulis para peneliti.

Apa itu tidur REM?

REM adalah singkatan dari rapid eye movement atau gerakan mata cepat. Ini adalah tahap tidur di mana kita mengonsolidasikan ingatan dan pembelajaran, menurut ahli neurologi dan kepala Divisi Gangguan Tidur di Vanderbilt Health, Beth Malow, MD.

Direktur neurologi untuk wilayah Westchester Northwell Health, Anna Hohler, MD, menyebut tidur REM sebagai salah satu tahapan tidur yang paling aktif secara biologis dan mencatat bahwa ini memainkan peran penting dalam kesehatan otak, pengaturan emosi, konsolidasi memori, dan fungsi sistem saraf otonom.

“Selama tidur REM, otak memproses informasi, mengatur respons stres, dan mendukung koneksi antara berbagai jaringan saraf,” ujar Hohler.

Para peneliti tidak menyelidiki hal itu secara mendalam, mereka hanya menemukan hubungan antara orang yang mencatat lebih banyak tidur REM dan risiko penyakit yang lebih rendah. Namun, ada beberapa teori.

“Tidur REM yang cukup dapat membantu membatasi peradangan kronis dan meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan metabolisme,” ujar Hohler.

Jika semua itu dipertimbangkan, bersama fungsi tidur REM, hal itu dapat menjelaskan mengapa individu menghabiskan lebih banyak waktu dalam tidur REM tampaknya memiliki risiko lebih rendah terhadap berbagai kondisi, mulai dari penyakit jantung hingga gangguan neurodegeneratif.

Nah, itulah kebiasaan tidur yang disebut dapat menurunkan risiko lebih rendah terkena 83 penyakit. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)