Puluhan petani ikuti Sekolah Lapang Iklim
Rabu, 30 September 2026 01:23 WIB
Puluhan petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (gapoktan) mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik di Kantor Kepala Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/7/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis
Kabupaten Semarang (ANTARA) - Puluhan petani dari berbagai gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ada di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa, mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik agar mampu membaca cuaca dan mencegah kegagalan panen.
Kegiatan SLI itu digelar oleh Stasiun Klimatologi Jateng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Komisi V DPR dan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang.
Kepala Stasiun Klimatologi Jateng Goeroeh Tjiptanto mengatakan bahwa BMKG Jateng akan terus memperkuat strategi ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim yang terjadi.
Melalui program SLI Tematik, BMKG membekali para petani dengan pemahaman literasi iklim agar mampu membaca kondisi cuaca, memperhitungkan musim tanam, serta meminimalkan risiko gagal panen akibat anomali iklim yang terjadi.
"Jadi, program SLI ini merupakan program edukasi iklim yang digulirkan BMKG untuk menjembatani kebutuhan para petani dengan pendampingan teknis dari Dinas Pertanian terkait, dan jenisnya ada dua yakni, SLI Tematik dan SLI Operasional," katanya.
Ia menjelaskan SLI Tematik berfokus pemahaman dasar mengenai literasi iklim serta penggunaan aplikasi digital, sedangkan SLI Operasional merupakan pemantauan dan pendampingan yang intensif secara langsung kepada petani, mulai perencanaan tanam, perawatan, hingga masa panen.
"Sehingga SLI ini bertujuan untuk menjembatani para petani dengan Dispertanikap agar petani bisa merencanakan masa tanam dengan mempertimbangkan kondisi iklim yang terjadi," katanya.
Di Jateng, BMKG menargetkan penyelenggaraan SLI sebanyak enam kali sepanjang tahun 2026 dengan tujuan menjembatani para petani dengan berbagai pengetahuan yang praktis terkait dengan aplikasi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dispertanikap Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno bahwa perubahan iklim yang makin sulit diprediksi harus mampu mendorong sektor pertanian untuk terus beradaptasi.
Ia menyebutkan kebiasaan tradisional petani yang selama ini mengandalkan Pranata Mangsa atau kearifan lokal saat ini dinilai sudah kurang akurat dalam memperkirakan iklim dan cuaca.
Untuk menekan risiko kegagalan tanam, pihaknya mendorong para petani, khususnya di wilayah Banyubiru agar beralih memanfaatkan informasi dan literasi iklim dari BMKG.
"Dulu petani kita mengandalkan Pranata Mangsa untuk memperkirakan iklim dan cuaca. Namun, kondisi zaman sudah berubah, sehingga kearifan lokal tersebut sering kali sudah tidak akurat," katanya.
Melalui kolaborasi dengan BMKG tersebut, para petani diharapkan mampu menentukan kalender musiman yang jauh lebih tepat, mulai dari penentuan awal masa tanam hingga pemilihan varietas tanaman yang sesuai.
"Langkah ini sangat vital, karena menyangkut air ya, terutama bagi kawasan pertanian non-irigasi yang sangat bergantung pada pasokan air hujan. Apalagi, banyak petani di penghujung tahun itu justru nekat menanam, padahal hujan sudah tidak turun," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.