Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah (Persero) Tbk memfokuskan pelestarian ekosistem pesisir secara berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, guna mendukung keberlangsungan sumber daya perikanan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan nelayan.
"Pelestarian ekosistem pesisir ini mendukung keberlangsungan sumber daya perikanan dan mata pencaharian masyarakat nelayan," kata Departerment Head Corporate Communication PT Timah Tbk Anggi Siahaan di Pangkalpinang, Selasa.
Ia mengatakan PT Timah (Persero) Tbk melalui berbagai program reklamasi laut dan tanggung jawab sosial lingkungan mengintensifkan pemulihan habitat biota laut, mulai dari penenggelaman artificial reef atau terumbu buatan, pembangunan fish shelter, transplantasi karang, hingga penenggelaman atraktor cumi dan restocking cumi-cumi.
"Program ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem laut sekaligus mendukung keberlanjutan potensi perikanan di wilayah pesisir Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," katanya.
Ia menyatakan dalam kurun waktu 2016 hingga 2024, PT Timah telah menenggelamkan sebanyak 7.680 unit artificial reef. Upaya ini berlanjut pada 2025 dengan penenggelaman 1.920 unit terumbu buatan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Selain itu, sepanjang periode 2016 hingga 2024, perusahaan juga telah menenggelamkan 3.105 unit fish shelter dan melaksanakan 1.475 unit transplantasi karang.
Berbagai program tersebut ditujukan untuk mendukung pemulihan habitat, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta menyediakan ruang hidup bagi biota laut.
"Artificial reef dirancang menyerupai struktur karang alami dan ditempatkan di dasar laut agar dapat menjadi habitat bagi berbagai organisme laut," katanya.
Ia menambahkan pelaksanaan pelestarian ekosistem pesisir ini dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas nelayan dan akademisi," katanya.
Pewarta: Aprionis
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.