Presiden ICAO apresiasi rekam jejak keselamatan penerbangan Indonesia
Sabtu, 10 Oktober 2026 13:07 WIB
Resepsi diplomatik memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Markas Besar ICAO, Montreal, Kanada, pada Kamis (8/10/2026). (ANTARA/HO-KBRI Ottawa)
Jakarta (ANTARA) - Presiden Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Toshiyuki Onuma mengapresiasi rekam jejak Indonesia di bidang keselamatan penerbangan dan dukungan bagi negara berkembang.
"Indonesia secara konsisten menunjukkan standar keselamatan dan keamanan di atas rata-rata global, yang mencerminkan komitmennya terhadap standar tertinggi," kata Onuma dalam keterangan pers dari KBRI Ottawa yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Onuma menyampaikan hal itu saat menghadiri Resepsi Diplomatik Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Markas Besar ICAO, Montreal, Kanada, pada Kamis (8/10), yang dihadiri 200 undangan dari negara-negara anggota ICAO.
Menurut Onuma, Indonesia juga telah berbagi keahlian dengan lebih dari 60 negara melalui program Indonesia Developing Countries Training Program (DCTP) sejak menjadi anggota pada tahun 1950.
Indonesia mencalonkan diri sebagai anggota Dewan ICAO periode 2026-2028 dan hasil pemilihan anggota tersebut akan diumumkan pada Sidang ke-43 Majelis Luar Biasa ICAO pada 19-20 November 2026 mendatang.
Kini, dengan bertambahnya jumlah anggota Dewan ICAO dari 36 menjadi 40 negara, terbuka peluang besar bagi Indonesia untuk kembali berkontribusi di tingkat global.
Baca juga: Tiga lapis keselamatan penerbangan RI
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Kanada sekaligus Wakil Tetap RI untuk ICAO, Muhsin Syihab, menjelaskan perkembangan Indonesia tidak lepas dari sektor aviasi serta penerbangan sipil telah menghubungkan Indonesia dengan dunia dan kesempatan yang lebih luas.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara di Kementerian Perhubungan RI Lukman F. Laisa, yang turut hadir di acara itu mewakili Pemerintah, menegaskan pentingnya penerbangan bagi masyarakat Indonesia.
"Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak melihat penerbangan sipil hanya sebagai industri, tetapi juga sebagai cara hidup yang menghubungkan komunitas," kata Lukman.
Dia menambahkan konektivitas udara menjadi salah satu penggerak ekonomi sekaligus penghubung antardaerah di Tanah Air.
ICAO dibentuk pada tahun 1947 dan Indonesia pernah menduduki kursi Dewan ICAO selama 12 periode dalam kurun waktu mulai dari tahun 1962 hingga 2001.
Pada 2012, Indonesia membuka Kantor Kepentingan Indonesia pada ICAO (KKIP ICAO) di Montreal untuk mempererat kerja sama dan berpartisipasi aktif dalam pertemuan di markas besar ICAO.
Dalam satu tahun terakhir, Indonesia juga tercatat aktif memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dalam bentuk pelatihan, berbagi kepakaran, hingga dukungan finansial untuk peningkatan kapasitas aviasi.
Baca juga: Bandara di Sisilia, Italia, masih ditutup imbas erupsi Gunung Etna
Menurut data Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub RI, hingga semester pertama 2026, sektor penerbangan telah melayani 24,9 juta penumpang domestik dan 18,5 juta penumpang internasional melalui 257 bandara, dengan 297 rute domestik dan 160 rute internasional.
Layanan itu dioperasikan oleh 14 maskapai nasional dan 59 maskapai asing.
Dari sisi keselamatan dan keamanan, berdasarkan audit International Civil Aviation Organization Universal Safety Oversight Audit Programme (ICAO USOAP), Indonesia mencatatkan effective implementation sebesar 78,85 persen atau lebih tinggi dari rata-rata global 70,6 persen maupun rata-rata Asia Pasifik 69,6 persen.
Pada audit keamanan penerbangan ICAO USOAP, Indonesia juga mencatatkan capaian 88,53 persen yang jauh di atas target global sebesar 75 persen.
Baca juga: Kemenhaj upayakan biaya penerbangan haji turun agar tekan BPIH
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Presiden ICAO apresiasi rekam jejak keselamatan penerbangan Indonesia
Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026