ILUSTRASI. Achmad Sudiyar Dalimunthe (KONTAN/Arif Ferdianto)

Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi lini asuransi engineering atau rekayasa terkontraksi 14,1% secara tahunan atau Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 2,37 triliun pada semester I-2026.

PT Asuransi Asei Indonesia juga ikut terpengaruh kondisi industri. Direktur Utama Asuransi Asei Achmad Sudiyar Dalimunthe menerangkan terkontraksinya kinerja asuransi engineering, penyebabnya tidak semata-mata karena minimnya proyek pembangunan. 

"Namun, ada perubahan komposisi dan timing proyek, terutama proyek-proyek yang berkaitan dengan belanja pemerintah, konstruksi, infrastruktur, dan investasi korporasi," ungkap Dody, sapaan akrabnya kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).

Dody menambahkan, efisiensi anggaran juga dapat memberikan tekanan terhadap proyek yang sangat bergantung pada belanja pemerintah, termasuk melalui perubahan prioritas maupun penundaan pelaksanaan proyek. 

Baca Juga: OJK Optimistis Risiko Kredit Himbara ke Koperasi Desa Merah Putih Terjaga

Di sisi lain, dia bilang bahwa aktivitas investasi di Indonesia belum berhenti. Sebab, data investasi menunjukkan masih terdapat aktivitas investasi baru di berbagai sektor.

"Oleh karena itu, bagi kami, persoalannya bukan hanya berapa banyak proyek yang dibangun, melainkan proyek apa yang dibangun, siapa investornya, bagaimana skema pembiayaannya, dan kapan proyek tersebut masuk tahap konstruksi," tuturnya.

Lebih lanjut, Dody menerangkan ada beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi kinerja lini asuransi engineering pada semester I-2026. Dia menyebut faktornya adalah penundaan atau perubahan project timeline, kenaikan biaya konstruksi dan biaya pembiayaan, perubahan risk appetite investor dan kontraktor, serta proyek yang menggunakan skema pembiayaan berbeda sehingga kebutuhan dan struktur asuransinya berubah

Selain itu, ada juga faktor kompetisi harga yang cukup ketat, serta perubahan mix proyek dari konstruksi konvensional menuju proyek industri, energi, kawasan industri, data center, utilitas, dan proyek berbasis teknologi.

Jadi, Dody menyampaikan kontraksi premi engineering tidak otomatis mengartikan bahwa kebutuhan proteksi risikonya hilang. Dia mengatakan sebagian permintaan hanya bergeser mengikuti perubahan investasi dan karakter proyek.

Baca Juga: Indodana Finance Terima Pendanaan Rp 700 Miliar dari HSBC Indonesia

Sebagai informasi, data AAUI mencatat, nilai klaim lini asuransi engineering mencapai Rp 1,59 triliun pada semester I-2026, atau meningkat 78,5% secara YoY.

Adapun lini asuransi engineering berkontribusi sebesar 4,1% terhadap total premi industri asuransi umum. Secara total, asuransi umum mencatatkan premi sebesar Rp 58,19 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

  • premi asuransi engineering
  • klaim asuransi engineering