Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia ke Istana Merdeka Jakarta, Rabu (14/10/2026). Bahlil tak menjelaskan hal apa yang akan dilaporkannya kepada Prabowo.
Saat ditanya terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah di Bali, Bahlil tak menjawabnya. Dia akan menyampaikan isi pembahasan dengan Prabowo usai rapat.
"Aku rapat dulu. Setelah rapat selesai, baru saya sampaikan kepada teman-teman media," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Dia menuturkan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri telah berada di Bali untuk menangani kelangkaan BBM di Bali. Bahlil pun masih menunggu laporan dari Dirut Pertamina.
"Saya rapat dulu ya. Pak Dirut Pertamina dari sana, nanti setelah itu saya akan mendapat laporan Pak Dirut pertamina. Setelah itu saya sampaikan kepada teman-teman," tutur dia.
Sebelumnya, Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Bali terjadi akibat kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan ketahanan stok BBM masih berada pada level aman, sementara penyaluran dipercepat untuk mengatasi gangguan pasokan di lapangan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, antrean BBM di Bali dipicu keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM. Setelah kapal tiba, distribusi langsung dikebut melalui operasi selama 24 jam.
"Iya, itu masalah proses distribusi saja. Jadi kemarin memang ada keterlambatan kapal. Kapalnya sudah tiba, sejak di sana kemarin sudah dilakukan operasi pasar 24 jam. Semoga, mungkin hari ini atau besok sudah selesai permasalahannya," ujar Laode saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (14/10/2026).
Laode menjelaskan, ketahanan stok BBM saat ini masih berkisar 18-20 hari. Menurut dia, gangguan yang terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh ketersediaan BBM, melainkan kendala dalam proses pengiriman hingga sampai ke konsumen.
"Ketahanan masih aman, 18-20. Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim," katanya.
Laode memaparkan, faktor cuaca dan kondisi transportasi menjadi tantangan dalam distribusi BBM, terutama di wilayah yang mengandalkan jalur perairan.